Manado, (ANTARA News) - "Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS)" bekerja sama dengan British Embassy, British Council, dan difasilitasi Pemkot Manado dan Kemenag mengedukasi keberagaman dan pengayaan wacana agama di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Utara, H Abdul Rasyid di Manado, Senin mengatakan kegiatan ini untuk menekankan bahwa pentingnya keberagaman yakni rukun, ragam dan sepadan.
Dia mengatakan tujuan penyelenggaraan lokakarya adalah memperkuat dan memperkaya kesadaran, nilai-nilai keterbukaan, pengertian, toleransi, dan interaksi di antara komunitas keagamaan.
Juga aktivitas ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan menciptakan ruang belajar bersama pemerintah, akademisi, dan elemen-elemen masyarakat lokal untuk membangun agenda-agenda keadilan sosial, sehingga dapat menjadi penyokong pembaruan kebijakan, dalam rangka menjamin keselarasan hubungan antarmanusia.
Tagline Rukun, Ragam, Sepadan merangkum tiga semangat yang menjiwai lokakarya ini yaitu harmoni antaragama, multikulturalisme, dan keadilan sosial.
Hal ini merupakan dorongan untuk memanfaatkan keberagaman sebagai aset dalam memperkuat persatuan dan membangun bersama menuju bangsa Indonesia yang lebih baik, tanpa diskriminasi, dan saling menghargai.
Diyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki ?DNA? keberagaman yang saat ini perlu diperkuat dan diperkaya.
Terjadi pergeseran yang masif di tengah masyarakat dengan wacana transnasional, mulai berkembangnya budaya digital, dan tantangan-tantangan lainnya.
Karena itu istilah Pengayaan dalam hal ini adalah upaya untuk senantiasa menjadikan diri relevan dengan perkembangan dan dinamika bermasyarakat majemuk dalam konteks kekiniaan.
Meskipun waktunya singkat, dampak dari program ini diupayakan optimal. Peserta diharapkan mengalami pengayaan wacana, keterbukaan wawasan keragaman, membangun penghargaan akan perbedaan, dan memperkuat kemauan untuk bersama-sama memelihara kekayaan wacana keagamaan.
Seratus orang peserta ini semoga dapat menjadi seratus agen perubahan bagi lingkungan tempat mereka berkarya, sehingga memperbesar harapan terwujudnya cita-cita nasional bangsa ini.
ICRS adalah konsorsium tiga universitas di Yogyakarta, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana, yang menyelenggarakan kajian antaragama (Interreligious Studies) dan isu-isu sosial-budaya yang berkaitan dengan agama.
Sementara British Council adalah lembaga sipil internasional yang memberi perhatian besar pada pengembangan budaya dan pendidikan di seluruh dunia.
Dihadiri oleh Dr Leonard C Epafras, Dr Sekar Ayu Aryani dan Ida Fitri Astuti serta Ambarizky dari British Council.
Melibatkan peserta yang terdiri dari penyuluh agama, guru agama, aktivis kepemudaan, perwakilan-perwakilan lembaga pemerintah, lembaga keagamaan, Forum Kerukunan Umat Beragama.
Program ini diselenggarakan di empat kota di Indonesia, yaitu Medan, Manado, Ambon, dan Bandung. Keempat kota ini mewakili kekhasan dalam hal demografi penganut agama maupun keragamannya.
Dalam penyelenggaraan seluruh program ini, ICRS, British Embassy dan British Council senantiasa bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama, pemerintah daerah dan mitra-mitra lokal lainnya.
Kerja sama ini menjadi bagian dari pembelajaran bersama, sebab mitra lokal lebih paham dinamika setempat, sekaligus sebagai memperluas kerja sama dan pergaulan.

