Logo Header Antaranews Manado

Menkeu yakin IHSG bisa tembus level 10.000 di tahun 2026

Rabu, 31 Desember 2025 22:53 WIB
Image Print
Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman (kedua kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi (tengah), Dirut Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat (kiri), Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, Dana Pensiun merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Ogi Prastomiyono (kedua kiri), dan Dirut Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) Iding Pardi (kanan) menekan tombol bersama pada penutupan perdagangan BEI tahun 2025, di Jakarta, Selasa (30/12/2025). Selama perdagangan tahun 2025 pasar modal Indonesia mencatat sejumlah tonggak sejarah baru diantaranya IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada 8 Desember 2025 di level 8.711 dan mencatat rekor sebanyak 24 kali all time high (ATH) sepanjang tahun. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menembus level 10.000 pada akhir 2026.

“10.000 (IHSG) tahun depan? Oh lebih lah. Lebih kalau tahun depan ya,” kata Purbaya, di Jakarta, Rabu.

Ia menilai, secara fundamental, IHSG tahun ini seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi. Namun, realisasi tersebut sempat tertahan oleh dinamika kebijakan dan sentimen pasar.

Tahun ini, IHSG ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Capaian ini meleset dari prediksi Purbaya sebelumnya yang menyatakan IHSG bisa tembus 9.000.

“Harusnya kalau kemarin desainnya sesuai dengan desain saya, sekarang sudah 9.000. Tapi kan sudah itu sedikit, ke depan dengan kebijakan semakin sinkron dan ekonominya semakin bagus, harusnya IHSG akan naik lebih cepat,” ujarnya pula.

Adapun pada penutupan bursa akhir tahun, IHSG menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Sementara, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan justru turun 5,47 poin atau 0,64 persen ke posisi 846,57.

Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa menilai penguatan IHSG di penghujung 2025 didorong oleh sentimen pemangkasan suku bunga, baik global maupun domestik, yang meningkatkan minat risiko investor terhadap aset di negara berkembang.

“Penguatan IHSG di akhir 2025 didorong oleh sentimen tren pemangkasan suku bunga global dan domestik, sehingga meningkatkan risk appetite investor untuk mulai masuk ke emerging market,” ujar Reydi.

Selain itu, kinerja emiten yang relatif solid, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar, turut menopang pergerakan IHSG. Faktor window dressing juga dinilai meningkatkan aktivitas transaksi di akhir tahun.

Memasuki tahun 2026, Reydi menilai sejumlah faktor masih akan menjadi perhatian utama investor, antara lain arah kebijakan suku bunga, dinamika geopolitik, serta pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

“Kinerja emiten big cap dan inflow asing yang masif, terutama sejak kepemilikan investor asing menjadi minoritas di IHSG, akan menjadi penentu arah pergerakan indeks ke depan,” ujarnya.




Pewarta :
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026