Manado (ANTARA) - Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Utara membuka dialog para pihak mengakhiri konflik perkelahian antarkelompok warga Desa Molompar dan Watuliney, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara.
"Dialog ini dilakukan untuk menciptakan situasi keamanan dan ketertiban yang kondusif setelah perkelahian kelompok antara dua desa di wilayah tersebut," kata Wakil Gubernur Sulut, Victor J Mailangkay di Manado, Selasa.
Wakil Gubernur mengajak masyarakat menghadapi segala persoalan dengan mengedepankan kasih, baik kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama.
Di sisi lain, Kapolda Sulut, Irjen Pol Roycke Harry Langie, juga mengajak masyarakat menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dan dialog adalah sarana rekonsiliasi dan reintegrasi.
"Rekonsiliasi adalah mendengar masukan. Mungkin ada informasi yang salah, kita luruskan," ujar Kapolda.
Reintegrasi, kata Kapolda, adalah menyatukan kembali kekuatan-kekuatan yang mungkin terpecah menjadi suatu kekuatan yang penuh dengan tujuan kebersamaan.
Pangdam XIII/Merdeka diwakili Kasdam Brigjen TNI Nono Julianto, mengajak masyarakat menjaga persatuan dan kesatuan.
Para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hadir di antaranya Pdt. Maxi Lempas, Pdt. Femmy Tiwow, Deyske Sangia, Irpan Idris, dan James Sumendap.
Mereka berharap masyarakat jangan mudah terprovokasi, peran forum koordinasi antarumat beragama intensif melakukan sosialisasi moderasi agama, pengaruh minuman beralkohol serta penggunaan senjata tajam yang mengganggu kamtibmas serta menindak tegas pelaku bila terbukti.
Kapolda Sulut menegaskan bahwa, kejadian pada hari Minggu tanggal 30 November 2025 dini hari adalah kriminal murni.
"Kesimpulannya, kejadian pada hari Minggu tanggal 30 November 2025 adalah kriminal murni, tidak ada unsur SARA. Pelaku akan ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku," kata Kapolda menegaskan.
Dialog tersebut juga dihadiri Forkopimda Minahasa Tenggara, sinode GMIM panji Yosua, Pemkab Minahasa Tenggara, Kementerian Agama Minahasa Tenggara, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat.

