Sangihe, (Antara Sulut) - Sejumlah desa yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, masih terisolasi akibat ruas jalan penghubung putus saat terjadi hujan deras pada 24 Juli 2012 lalu.
"Badan jalan sekarang ini tinggal setengah meter, sebagiannya putus dan longsor ke jurang," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Reintje Tamboto, di Sangihe, Senin.
Dia mengatakan, ruas jalan tersebut berada di antara Desa Laine dan Desa Lapango, Kecamatan Tabukan Selatan, dan berada di puncak bukit, sebelah kiri dan kanan jalan terdapat jurang.
"Ruas jalan sepanjang 20 meter ambrol ke dasar jurang sedalam 30 meter. Ruas jalan ini perannya sangat vital karena menjadi penghubung ke desa-desa lainnya," kata dia.
Beberapa desa yang masih terisolasi di Kecamatan Tamako dan Manganitu Selatan, menurut Tamboto, adalah Desa Lapepahe, Lapango, Lapango I, Sowaeng, Ngalipaheng I, Ngalipaheng II, Batunderang, Bahumu I dan Bahumu II.
Dia mengatakan, akibat putusnya jalan penghubung ini, warga terpaksa menggunakan jasa sepeda motor ojek untuk berbelanja kebutuhan hidup sehari-hari ataupun hendak bepergian keluar kampung, dengan harga sewa sekitar Rp30 ribu sekali jalan.
"Kalau sebelumnya jasa ojek hanya sekitar 15 ribu rupiah. Tapi sekarang ini melonjak dua kali lipat setelah ruas jalan penghubung putus," kata dia.
Tak hanya itu, untuk naik sepeda motor ojek menuju ke Tahuna, warga harus berjalan berkilo-kilometer menuju ke Desa Laine.
"Hanya sedikit yang menggunakan perahu untuk berbelanja atau keluar kampung. Kondisi seperti ini sama persis terjadi ketika kami mengevakuasi warga pada saat terjadi banjir dan longsor bulan lalu. Bahkan untuk menjangkau sejumlah desa yang terisolasi terpaksa harus jalan kaki," kata dia.
Dia mengatakan, dengan peralatan dan kemampuan anggaran yang terbatas, pemerintah daerah sementara melakukan perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana yang ada.***2***(PSO-305/B/MO31) 20-8-2012 19.15
(T.pso-305/B/M031/M031) 20-08-2012 18:21:15

