Manado, 22/3 (Antaranews) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Utara (Sulut) memacu pengembangan industri kecil komoditas nata de coco dalam upaya peningkatan taraf hidup petani.
"Pengembangan industri nata de coco, melalui program pelatihan teknis pengolahan kepada usaha kecil menengah (UKM) agar mau mengolah air kelapa menjadi nata de coco," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Sanny Parengkuan pada Pelatihan Teknis Pengolahan Nata de Coco di Manado, Selasa.
Sanny mengatakan, nata de coco merupakan bahan pangan yang makin diminati masyarakat, bukan hanya dalam negeri saja, tetapi pangsa pasar luar negeri semakin terbuka lebar.
"Potensi pasar yang ditawarkan tersebut, maka sudah saatnya bagi industri kecil di Sulut untuk menjadikan nata de coco sebagai salah produk andalan, karena hingga saat ini baru satu industri yang kontinu mengolah produk ini," kata Sanny.
Staf ahli Kapet Manado-Bitung, Prof Dr Charles Keppel, mengatakan, proses pengolahan air kelapa menjadi nata de coco relatif sederhana, karena hanya melalui proses fermentasi.
"Karena pengolahannya yang sangat mudah, maka cocok dikembangkan industri kecil dan industri rumah tangga," kata Charles.
Tenaga ahli klaster kelapa, Dr Caroline Ellen Pakasi, mengatakan, pengolahan nata de coco memiliki nilai plus karena memanfaatkan bahan buangan menjadi komoditas berharga yang mendatangkan penghasilan bagi masyarakat.
"Air kelapa dihasilkan petani setelah buah kelapa diolah menjadi kopra, tetapi sebagian besar hanya dibuang percuma belum dimanfaatkan, padahal mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral serta vitamin.
Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Sulut, Benny Nongkan, mengatakan, guna mendorong pengembangan industri kecil nata de coco di Sulut, akan digelar pelatihan secara lebih intensif kepada masyarakat.

