Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan kritik terhadap pemerintah soal penyebab terjadinya bencana di Sumatera.
Dalam pidatonya di Rakernas PDI Perjuangan yang digelar di Beach City International Stadium, Jakarta Utara, Sabtu, Megawati menghubungkan kerusakan lingkungan di wilayah hulu dengan rentetan bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurutnya, banjir ekstrem dan longsor tersebut bukanlah peristiwa alam semata, melainkan dampak nyata dari perubahan fungsi lahan penyangga menjadi kawasan eksploitasi.
Mega menambahkan, pembukaan hutan secara masif untuk tanaman monokultur telah menghilangkan kemampuan fungsi lahan sebagai sebagai penyerap air.
Kondisi ini pada akhirnya berdampak pada kehidupan rakyat kecil di hilir yang dinilai tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Karenanya, dia menegaskan sikap PDI Perjuangan menolak model pembangunan tersebut karena dianggap mengabaikan keadilan ekologis.
Baginya, praktik eksploitasi yang terjadi saat ini harus dihilangkan karena merupakan bentuk kemunduran bagi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
"Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban," kata dia.
Sebagai informasi, pada rangkaian acara HUT ke-53 PDIP Perjuangan dan Rakernas I Partai, DPP PDIP mengusung tema ‘Satyam Eva Jayate’ dengan sub tema “Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya”.
Satyam Eva Jayate, adalah slogan berbahasa Sanskerta yang artinya "Kebenaran akan Menang".
Sedangkan, ‘Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya’ yang dikutip dari Lagu Kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman menggambarkan daya tahan (resilience) yang menyertai Satyam Eva Jayate.

