Manado (ANTARA) - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Utara (Sulut) Nicholas Lieke mengatakan Sulut masih membutuhkan tambahan hotel berbintang, menyusul permintaan semakin tinggi.
"Saat ini jumlah kamar hotel di Sulut baru mencapai 8.000 ruang, jumlah tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan tamu menginap yang terus meningkat menyusul sektor pariwisata daerah ini semakin menggeliat, ," kata Lieke di Manado, Kamis.
Lieke mengatakan Sulut itu masih kekurangan hotel bintang 4 dan bintang 5, karena jumlah turis yang datang sekitar 150.000 per tahun. Jadi estimasi pertambahan tamu menginap 50.000—60.000 per tahun.
"Berarti butuh tambahan sekitar 300 kamar, dua hotel lah di kelas itu,” jelasnya.
Dia menjelaskan, kebutuhan hotel bintang 4 dan 5 disesuaikan dengan karakteristik wisatawan China yang mendominasi kunjungan wisman ke Sulut. Preferensi mereka selama ini selalu memilih kamar hotel pada kelas tersebut.
“Beda dengan turis lokal ini memang lebih banyak di di bintang 2 dan 3, kalau yang China lebih banyak di di bintang 4 dan 5. Rata-rata hotel di kelas itu penuh semua, cuma yang bintanf 2—3 ini agak kosong sekarang, karena juga faktor harga tiket pesawat kunjungan wisatawan lokal berkurang,” jelasnya.
Dia mengharapkan para pelaku industri perhotelan di Indonesia dapat berinvestasi di Sulawesi Utara.
Nicholas menambahkan, saat ini beberapa calon investor dari luar negeri juga sudah mulai melirik Sulut untuk berinvestasi pada industri perhotelan.
“Sudah ada dari dari Hong Kong, dari Filipina, China dan tentunya dari dalam negeri juga untuk melihat-lihat pasar di sini,” ujarnya.
Di sisi lain, dia juga mengharapkan lebih banyak para pelaku usaha agensi pariwisata spesialis wisman China yang beroperasi di Sulut.
Menurutnya, dengan dominasi satu atau dua agensi pariwisata saat ini pelaku usaha perhotelan baru sulit menembus pasar.
“Karena yang bawa turis itu cuma satu atau dua perusahaan, kalau andai kata buka hotel baru tapi mereka gak menyarankan ke tamunya itu akan susah. Jadi, bagus kalau free market jadi si hotel yang baru juga bisa kerja sama dengan travel agent lain, buka flight baru,” katanya.

