Logo Header Antaranews Manado

Harga pala di Sulut alami penurunan

Rabu, 25 Juli 2018 10:17 WIB
Image Print
buah pala (foto ist) (.)
Saat ini pala dijual Rp65.000 per kg, sebelumnya Rp70.000 per kg

Manado, (Antaranews Sulut) - Harga komoditas unggulan Pala di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengalami penurunan pada awal Juli 2018.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Hanny Wajong mengatakan, harga perdagangan pala memang sedikit menurun jika dibandingkan Maret 2018.

"Saat ini pala dijual Rp65.000 per kg, sebelumnya Rp70.000 per kg," kata Hanny di Manado, Selasa.

Dia mengatakan, harga tersebut memang sedikit mengalami penurunan sekitar 7 persen. Namun jika dibandingkan dengan harga dua tahun lalu, harga salah satu komoditas andalan Sulut ini sudah mengalami penurunan yang dalam.

"Kalau kita lihat tren pergerakan harga, harga pala saat ini agak melemah jika dibandingkan akhir 2016 yang menyentuh Rp90.000 per kg," jelasnya.

Meskipun demikian kata dia, harga pala masih sangat laku di tingkat pedagang lokal, nasional, maupun pasar internasional, karena itu permintaan pala masih tinggi sehingga petani masih diuntungkan.

Dia mengakui, sejumlah petani perkebunan Sulut pada dasarnya mengharapkan harga komoditas unggulan Sulut tetap berpihak ke petani, dan ada jaminan dari petani agar harga tidak akan anjlok.

Karena itu, petani juga berharap pemerintah akan tetap menjaga agar harga tetap stabil dengan nilai yang tinggi, sehingga petani mampu menutupi pengeluaran saat panen dan selesai panen.

"Pemerintah, akan terus memfasilitasi dan memantau pergerakan harga baik di pedagang pengumpul maupun eceran," paparnya

Selain itu, cuaca tidak menentu yang terjadi saat ini juga membuat petani khawatir, karena panen pala dapat terganggu.

Buah pala yang akan dipanen terancam jatuh dari pohon sebelum dipanen.

"Mirisnya lagi adalah bakal buah yang jatuh karena tiupan angin kencang. Sementara pala yang telah dipanen akan terancam rusak karena tidak melalui proses pengeringan dengan sinar matahari usai hujan," kata Rolan Tahulending, petani asal Kecamatan Siau Barat.

Markus Takasili, petani pala asal Kecamatan Siau Timur Selatan, mengatakan dengan kondisi penghujan seperti ini pala akan terancam rusak, karena beberapa hari ini tidak dijemur.

"Saya bakal merugi dua kali. Selain pala terancam tidak bisa dijual, saya sudah mengeluarkan uang untuk menyewa para buruh pemetik pala. Sehari seorang buruh diupah Rp120.000, jika dihitung dua pekerja memetik pala dalam dua hari, ada sekira Rp480.000 uang yang dikeluarkan. Jelas sangat merugi," ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, hasil panen pala di Sulut terus menunjukkan pertumbuhan. Pasalnya pada 2016 hasil panen mencapai 10.355 ton. Tahun 2015 menyentuh 10.163 ton, serta di 2014 10.203 ton.Budi Suyanto

(T.KR-NCY/B/B008/B008) 24-07-2018 12:46:33



Pewarta :
Editor: Christian Alberto Kowaas
COPYRIGHT © ANTARA 2026