Manado (ANTARA) - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Utara (Karantina Sulut) memperketat pengawasan daging celeng ilegal untuk mencegah terulangnya krisis "demam babi" yang sempat melumpuhkan sektor peternakan di provinsi tersebut.
"Tujuannya melindungi kesehatan ternak lokal dan stabilitas ekonomi ribuan peternak dari ancaman penyakit yang dibawa oleh daging ilegal," kata Kepala Karantina Sulawesi Utara, I Wayan Kertanegara dalam diskusi memperketat prosedur pemasukan daging celeng ke wilayah ini di Manado, Jumat.
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya dokumen karantina bagi setiap pemasukan daging celeng dari daerah lain sesuai implementasi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
Tanpa dokumen karantina, asal usul dan kondisi daging tidak bisa dipertanggungjawabkan dan berisiko membawa penyakit menular.
“Prosedur karantina di daerah asal adalah benteng pertahanan utama untuk memastikan daging yang masuk sudah terjamin kesehatan dan keamanannya," ujarnya.
Karantina akan menerbitkan dokumen karantina berupa sertifikat kesehatan sebagai jaminan bahwa komoditas yang dikirim layak untuk dilalulintaskan dan bebas dari risiko penyakit, jelas I Wayan Kertanegara.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara, Askhari DG Masikki menjelaskan bahwa celeng termasuk satwa liar yang penangkapan dan perdagangannya diatur ketat.
“Masyarakat Sulawesi Utara memang sentra konsumsi satwa liar, tapi tanpa izin resmi penangkapan dan penjualan daging celeng dianggap ilegal. Jadi kalau ingin mengirim daging celeng, pelaku usaha wajib mematuhi prosedur yang berlaku seperti mengurus Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN) di BKSDA setempat,” jelas Azhari.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara, Hanna O. Tioho menyebutkan kondisi peternakan babi Sulawesi Utara tidak baik-baik saja.
Sehingga menurut dia, pengawasan pengiriman daging babi dan celeng keluar masuk Sulawesi Utara semakin diperketat.
"Ini bukan hanya soal daging celeng, tapi juga soal nasib peternak babi kita yang bergantung pada usaha ini. Kami tidak ingin krisis kemarin terulang. Jadi ayo, kita sama-sama taat aturan," ujarnya.

