
Tarik minat anak muda ke perikanan, Menteri KP ajak Raffi Ahmad, Ariel, Gading, dan Desta

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono mengajak Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad dan sejumlah figur publik meninjau lokasi modeling budidaya ikan nila salin (BINS) di Karawang, Jawa Barat, Minggu, sebagai upaya menarik minat generasi muda terhadap sektor perikanan budidaya.
Dalam kunjungan tersebut, Raffi Ahmad hadir bersama Ariel Noah, Gading Marten, dan Desta yang tergabung dalam kelompok The Dudas-1, demikian KKP dalam keterangan persnya.
Mereka diajak melihat langsung sistem budidaya nila salin modern yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai bagian dari transformasi tambak tradisional menjadi tambak modern berorientasi ekspor.
“Budidaya ikan bukan hanya tentang produksi, tetapi juga masa depan pangan nasional, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Dengan teknologi yang tepat, tambak dapat menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan,” kata Trenggono.
Ia menambahkan keterlibatan figur publik diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan konsep ekonomi biru dan budidaya ikan modern kepada generasi muda.
Menurutnya, cara-cara kreatif seperti ini sangat efektif untuk menggugah minat masyarakat terhadap sektor perikanan yang kini semakin modern dan menjanjikan.
BINS Karawang dibangun di atas lahan seluas 230 hektare yang dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti intake air laut dan tawar, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), area pembesaran, serta fasilitas kawasan terpadu.
Dengan sistem pengelolaan terintegrasi, produktivitas tambak ditargetkan mencapai 84 ton per hektare per tahun dengan total produksi hingga 11.150 ton per tahun. Proyek ini juga diproyeksikan membuka lapangan kerja baru bagi sekitar 500 orang.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu menjelaskan bahwa BINS Karawang dirancang untuk meningkatkan produktivitas tambak secara signifikan.
“Sebelumnya produktivitas hanya sekitar 0,6 ton per hektare per siklus, kini bisa mencapai 80 ton,” katanya.
Ia menjelaskan ikan nila salin yang masuk dalam jenis tilapia itu dipilih karena mampu hidup di air payau dengan kadar garam hingga 20 ppt, memiliki pertumbuhan cepat, tahan terhadap penyakit, dan memiliki pasar yang luas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Data KKP menyebutkan permintaan global ikan tilapia mencapai 7,84 juta ton pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 8,9 juta ton pada 2030. Di dalam negeri, permintaan juga terus meningkat dan diperkirakan menembus 2,36 juta ton pada 2030.
Dari sisi produksi, Indonesia kini menjadi produsen tilapia terbesar kedua di dunia dengan produksi sekitar 1,4 juta ton atau 20,5 persen dari total produksi dunia, setelah China. Indonesia juga tercatat sebagai eksportir nila terbesar ketiga di dunia setelah China dan Kolombia.
Raffi Ahmad menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dikembangkan KKP.
“Modeling seperti ini bukan hanya meningkatkan produksi ikan, tapi juga membuka lapangan kerja dan menyediakan sumber protein hewani yang sehat dan bergizi,” ujarnya.
Pengembangan BINS Karawang merupakan bagian dari visi Indonesia Emas 2045 dan Asta Cita pemerintah khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan berbasis protein ikan dan pemerataan ekonomi pesisir.
Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor:
Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
