Logo Header Antaranews Manado

Minyak tanah di pulau Miangas tembus Rp30 ribu per liter

Rabu, 25 April 2012 19:27 WIB
Image Print
Seorang pemuda berada di pulau Miangas yang berbatasan langsung dengan negara filipina (Foto Ist/agnestm) (.)
Kami sangat berharap pemerintah mau memperhatikan keberadaan masyarakat dipulau terluar ini yang berbatasan langsung dengan Filipina dengan membangun depot khusus untuk Pulau Miangas, ini sangat penting. berkaitan dengan kehidupan warga dipulau terse

Manado, (Antara Sulut) - Harga minyak tanah di Pulau Miangas, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan negara Filipina, tembus Rp30 ribu per liter dari harga ecar tertinggi (HET).

"Problem harga dan distribusinya sudah berlangsung cukup lama dan belum ada solusi hingga sekarang ini," kata Camat Miangas, Steyven Maarisit, Rabu.

Dia mengatakan, melonjaknya harga minyak tanah dari harga dasar yang rata-rata mencapai Rp3.500 per liternya, kdapat memukul telak aktivitas masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan.

"Sekitar dua bulan mereka menganggur karena tidak tersedia minyak tanah, harganyapun melonjak tinggi tanpa terkontrol lagi," ungkap Steyven.

Namun meski harganya cukup mahal tapi cukup tersedia, masih bisa ditoleransi karena memang menjadi kebutuhan pokok warga nelayan di Pulau Miangas itu.

Akibat terbatas ketersediaan dan melonjaknya harga minyak tanah tersebut yang sudah berlangsung beberapa bulan belakangan ini, maka aktivitas masyarakat nelayan menganggur karena tidak bisa melaut lagi.

"Kalaupun ada nelayan melaut, itu mereka hanya menggunakan perahu tradisional dengan cara mendayung perahu, itupun hanya untuk kebutuhan makan sehari-hari," jelasnya.

Selama ini kata dia, kebanyakan hasil tangkapan nelayan dijadikan alat barter dengan pedagang Filipina untuk memenuhi kebutuhan pokok warga.

Dia mengungkapkan, untuk mendapatkan minyak tanah, biasanya masyarakat terpaksa main kucing-kucingan dengan petugas pelabuhan karena takut ditangkap dan barangnya disita.

"Kalau ada yang melakukan perjalanan ke Kota Manado, Kota Bitung atau ke ibukota kabupaten, biasanya dikemas serapih mungkin agar tidak terlacak petugas pelabuhan, kalau ketahuan, pasti minyak tanah langsung disita oleh petugas", terangnya.

Steyven berharap pemerintah dan pertamina dapat memerhatikan persoalan ini, dengan mendirikan depot khusus di Pulau Miangas, apalagi rata-rata profesi warga di pulau terluar ini hanya bertempuh pada nelayan.

"Kami sangat berharap pemerintah mau memperhatikan keberadaan masyarakat dipulau terluar ini yang berbatasan langsung dengan Filipina dengan membangun depot khusus untuk Pulau Miangas, ini sangat penting. berkaitan dengan kehidupan warga dipulau tersebut," pintanya.

Jumlah penduduk Pulau Miangas 764 jiwa atau 210 kepala keluarga, 165 rumah tinggal dan sebanyak 293 jiwa berprofesi sebagai nelayan
(guntur/@antarasulutcom)



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026