Logo Header Antaranews Manado

Diplomat Indonesia ingatkan risiko kerja sama baru Indo-Pasifik

Sabtu, 7 Maret 2026 00:00 WIB
Image Print
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Soemadi Brotodiningrat (tengah) saat menjadi pembicara dalam dalam FPCI-GRIPS Joint Seminar di Jakarta, Jumat (6/3/2026). (ANTARA/Kuntum Khaira Riswan)

Jakarta (ANTARA) - Diplomat Indonesia memperingatkan risiko pencampuran kepentingan ekonomi, perdagangan, politik, dan keamanan dalam praktik kerja sama bilateral baru di kawasan Indo-Pasifik yang dinilai dapat mengganggu komitmen terhadap perjanjian internasional berbasis aturan.

Peringatan itu disampaikan mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Soemadi Brotodiningrat, dalam FPCI-GRIPS Joint Seminar di Jakarta, Jumat, merujuk pada semakin beragamnya instrumen kerja sama yang melibatkan negara-negara di kawasan Indo-Pasifik.

“Dengan praktik bilateral transisional yang memuat komitmen terhadap aturan yang diterima, serta pencampuran kepentingan ekonomi dan perdagangan dengan tujuan politik dan keamanan, penting bagi kita untuk mencermati secara saksama bagaimana hal ini dapat memengaruhi kita,” kata Soemadi.

Ia menilai praktik bilateral transisional tersebut berpotensi memengaruhi hubungan yang selama ini dibangun melalui berbagai perjanjian berbasis aturan, termasuk kemitraan bilateral antara Indonesia dan Jepang.

“Soal yang saya khawatirkan adalah implementasi perjanjian berbasis aturan itu dapat terancam oleh komitmen baru yang justru diperkenalkan melalui sistem bilateral jenis ini,” ujarnya.

Menurut Soemadi, kawasan Indo-Pasifik sebenarnya telah memiliki berbagai skema kerja sama regional, bahkan sejumlah perjanjian yang mengikat secara hukum dan telah berjalan selama ini.

Ia mencontohkan konsep Free and Open Indo-Pacific (FOIP) dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menekankan stabilitas, keterbukaan, serta kerja sama antarnegara.

Selain itu, terdapat pula berbagai mekanisme regional yang berpusat pada ASEAN, seperti ASEAN Plus One, Plus Three, dan Plus Five.

Dalam konteks hubungan bilateral, Soemadi mengatakan Indonesia dan Jepang telah berhasil melampaui beban konflik sejarah dan berkembang menjadi kemitraan strategis yang semakin erat.

“Kami menyadari bahwa hubungan yang baik bukan hanya hasil dari kepentingan dan nilai bersama, tetapi juga dari saling pengertian serta penerimaan atas perbedaan,” katanya.

Karena itu, ia menilai kunci hubungan antarnegara, terutama antara Indonesia dan Jepang, adalah memastikan setiap perbedaan tidak berkembang menjadi pertentangan.

“Yang paling penting adalah kedua pihak bersedia dan siap mencegah setiap perbedaan berkembang menjadi pertentangan dan benih konflik,” ujarnya.



Pewarta :
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026