Manado (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Manado, Sulawesi Utara, mencatat sebanyak 242 kejadian gempa tektonik di wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya sepanjang September 2025.
"Sebagian besar atau 62 persen bermagnitudo antara M 3 sampai M 4,9. Sedangkan sisanya sebesar 38 persen magnitudo kurang dari M 3," kata Koordinator data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado, M. Zulkifli di Manado, Rabu.
Pada periode September 2025 tersebut, terdapat satu kali kejadian gempa yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Dia menambahkan, menurut kedalaman gempanya, sebesar 58 persen diantaranya adalah gempa bumi berkedalaman dangkal (antara 1-60 kilometer).
Sementara, sebesar 40 persen gempa berkedalaman menengah (antara 61-300 kilometer), dan sisanya sebesar dua persen gempa berkedalaman dalam (lebih dari 300 kilometer).
Sedangkan berdasarkan, peta sebaran seismisitas atau peta episenter, sebagian besar kejadian gempa tersebar di area Teluk Tomini, Laut Maluku dan Laut Sulawesi.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan tiga lempeng tektonik yang menyebabkan Sulawesi Utara rawan gempa.
Lempeng-lempeng laut tersebut, kata dia, ada yang namanya lempeng Laut Maluku yang letaknya berada di perairan laut antara Sulawesi Utara dan Maluku Utara terus memanjang sampai ke Talaud.
Berikutnya, di utara Sulawesi ada lempeng Laut Sulawesi, sementara di timur laut Talaud sampai bagian utara Pulau Halmahera ada yang namanya lempeng laut Filipina.

