Manado (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mengedukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP Rupiah) kepada pegawai PLTU Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara (Sulut).
"Hal ini guna meningkatkan pemahaman terhadap uang rupiah sebagai simbol kedaulatan negara dan alat pemersatu bangsa," kata Kepala BI Perwakilan Sulut Joko Supratikto di Manado, Kamis (26/6).
Joko menegaskan bahwa BI merupakan Bank Sentral Indonesia, sebagai lembaga negara, memiliki tujuan yaitu mencapai dan menjaga kestabilan nilai rupiah.
Oleh karena itu, Bank Indonesia mengajak masyarakat Indonesia untuk turut mengikuti kampanye Cinta, Bangga, Paham Rupiah.
Kepala BI Perwakilan Sulut lantas menjelaskan Cinta Rupiah, yaitu perwujudan dari kemampuan masyarakat untuk mengenal karakteristik dan desain rupiah, memperlakukan rupiah secara tepat, menjaga dirinya dari kejahatan uang palsu.
"Tiga cinta itu dengan mengenali, merawat, dan menjaga. Sementara itu, Bangga Rupiah terkait dengan identitas dan simbol bangsa," ucapnya.
Bangga Rupiah, lanjut dia, merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat memahami rupiah sebagai alat pembayaran yang sah, simbol kedaulatan NKRI, dan alat pemersatu bangsa.
"Tiga bangga sebagai simbol kedaulatan, pembayaran yang sah, pemersatu bangsa," jelasnya.
Selanjutnya dia menjelaskan mengenai Paham Rupiah, yakni perwujudan kemampuan masyarakat memahami peran rupiah dalam peredaran uang, stabilitas ekonomi, dan fungsinya sebagai alat penyimpan nilai kemampuan.
Disebutkan pula ada tiga paham dalam bertransaksi, berbelanja, dan berhemat.
Ia mengatakan bahwa edukasi ini sebagai bentuk kerja sama BI dengan PLTU Amurang dalam pemanfaatan limbah operasional rupiah. Hal ini menegaskan kontribusi Bank Indonesia dalam mendukung transformasi hijau.
Ke depan, kata dia, Bank Indonesia akan terus memperluas pemanfaatan limbah operasional dalam rangka mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan dan netralitas karbon Indonesia.

