Logo Header Antaranews Manado

BI-Pemerintah gagas PIBHS kendalikan harga barang

Selasa, 19 Maret 2013 22:35 WIB
Image Print
Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Sulut, Suhaidi dalam suatu kesempatan. (Foto Guntur Bilulu)
Komoditas strategis, yang banyak dibeli masyarakat, dan berapa harga berlaku di pasaran akan ditayangkan secara realtime melalui peralatan informasi elektronik dan online tersedia di pasaran," kata Suhaedi.

Manado, (ANTARA Sulut) - Bank Indonesia Sulawesi Utara bersama pemerintah daerah setempat menggagas informasi akurat dan cepat berupa Pusat Informasi Harga Barang Strategis (PIHBS) yang akan ditempatkan di lokasi strategis seperti pasar dan pusat perdagangan lainnya di Kota Manado.

Ide pembentukan Pusat Informasi Harga Barang Strategis (PIHBS) tersebut muncul dari Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara yang merasa ikut bertanggung jawab terhadap inflasi Manado, yang pada awal 2013 ini cukup mengkhawatirkan, dengan pergerakan tertinggi di wilayah Sulawesi.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut Suhaedi mengatakan, PIHB tersebut akan menginformasikan berbagai harga kebutuhan pokok dan strategis dalam jaringan atau secara online, diperoleh dari pusat perdagangan masing-masing komoditas pangan tersebut serta harga eceran yang berlaku di pasaran.

"Komoditas strategis, yang banyak dibeli masyarakat, dan berapa harga berlaku di pasaran akan ditayangkan secara realtime melalui peralatan informasi elektronik dan online tersedia di pasaran," kata Suhaedi.

Peralatan informasi elektronik tersebut akan menjadi pusat informasi atau PIHBS, yang nantinya memberi signal pergerakan harga yang terjadi di lapangan.

Guna mempercepat rencana tersebut, maka BI menggandeng Pemerintah Kota Manado dan Universitas Dela Salle, guna membantu data dan pengoperasian PIHBS berbasis website.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Manado Fanny Sirang mengatakan, tim ini akan mulai bekerja satu atau dua bulan ke depan guna memantau perkembangan harga kebutuhan di pasaran.

Fanny mengatakan, nantinya sebagai pelaksana ada Universitas Dela Salle yang akan turun ke lapangan, untuk memantau harga dan persediaan kebutuhan pokok setiap hari kemudian ditulis di website tim penanggulangan inflasi daerah.

Keterlibatan universitas swasta terkenal di Manado ini, kata Fanny, sebagai kelompok akademisi sekaligus menjadi salah satu cara bagi para mahasiswa untuk belajar dan terjun langsung memantau persediaan kebutuhan pokok.

"Para mahasiswa akan meng-update harga kebutuhan setiap hari, di internet sehingga bisa diketahui oleh masyarakat," kata Fanny.

Harga kebutuhan yang akan disiarkan di website tersebut, juga akan menyertakan pasarnya, baik tradisional maupun modern, sehingga akan memudahkan konsumen berbelanja dan mencari lokasi yang paling terjangkau.

Selain memantau harga, website PIHBS tersebut nantinya akan menginformasikan posisi stok bahan kebutuhan pokok strategis yang masih ada pada pedagang, yang selanjutnya akan sangat penting dalam penentuan untuk stabilisasi harga di pasaran.

Dengan adanya informasi harga dan stok secara realtime (seketika), maka tim pengendali inflasi daerah (TPID) dapat mengambil berbagai langkah untuk menahan laju kenaikan harga barang, yang sering membingungkan masyarakat karena sering terjadi secara sporadis dan tiba-tiba.

Kehadiran PIHBS menjadi topik yang cukup menarik pada rapat TPID yang berlangsung di kantor BI Sulut, Selasa (19/3) dihadiri sejumlah instansi terkait dengan harga barang baik penyediaan stok hingga distribusi ke pasaran.

Menurut para peserta rapat, informasi PIHBS akan sangat dibutuhkan guna menyatukan persepsi sehingga harga terbentuk lebih stabil bukan hanya di satu daerah tetapi juga diharapkan berlaku di seluruh wilayah Sulut.

"Kehadiran PIHBS nantinya diharapkan menjadi patokan bagi pedagang dalam penentuan harga eceran di pasaran," kata Asisten Direktur BI Sulut, Eko Siswantoro.

Dengan adanya PIHBS yang ditempatkan di lokasi strategis, maka pedagang di pasar tradisional pasti akan menentukan harga jual eceran tidak melebihi yang diinformasikan pada PIHBS tersebut.

Dalam rencana, PIHBS tersebut awalnya akan ditempatkan di pasar tradisional dan modern di Kota Manado dalam waktu dekat ini, selanjutnya diperluas kabupaten/kota lainnya, terutama yang selama ini menjadi produsen sejumlah bahan kebutuhan pokok strategis masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Dantes Simbolon mengatakan, kenaikan bahan makanan sering menjadi pemicu terciptanya inflasi yang cukup tinggi.

Dia mencontohkan di bulan Februari 2013, Kota Manado mengalami inflasi 1,30 persen, angka tertinggi di wilayah Sulawesi, dan sebagai pemicunya yakni kelompok bahan makanan.

"Kelompok pangan yang memberi andil terbesar bagi inflasi Manado yakni bahan makan dengan inflasi 4,34 persen serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,04 persen, cukup memberi sumbangsih inflasi bulan Februari," kata Dantes.

Dantes mengatakan, dari tujuh kelompok penyumbang inflasi atau deflasi Manado, tiga mengalami deflasi atau penurunan harga dan empat mengalami kenaikan.

Komoditas bahan kebutuhan masyarakat yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, tomat sayur, bawang putih, beras, tarif listrik, buncis telur ayam ras, pisang, cabai merah dan wortel.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga di antaranya tiket angkutan udara, lemon cina, daun bawang, kacang panjang, emas perhiasan, telepon selular, bawang merah, semen, daging bagi dan gula pasir.

Perbandingan di wilayah Sulawesi untuk bulan Februari 2013, tujuh kota mengalami inflasi dan dua kota mengalami deflasi.

"Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 1,30 persen, inflasi terendah terjadi di Kota Mamuju 0,25 persen, sementara deflasi tertinggi di Kota Kendari sebesar -0,10 persen dan deflasi terendah di Gorontalo -0,06 persen," kata Dantes.

Dengan inflasi Sulut yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya di pulau Sulawesi, maka dapat disimpulkan, terjadi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok masyarakat lebih tinggi di Manado dan sekitarnya ketimbang daerah lainnya.

Kehadiran PIHBS, diharapkan dapat membantu stabilisasi harga terutama bahan pangan dan komoditas yang banyak dibeli masyarakat lainnya dengan harga terkendali, dengan demikian inflasi dapat terjaga pada kisaran yang rendah.
(guntur/@antarasulutcom)



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026