
Pantang Menyerah
Kamis, 3 Mei 2012 23:32 WIB

Kekurangan lain mahasiswa Asia pada waktu itu adalah sering lupa menyebutkan sumber tulisannya. Seorang rekan Asia bahkan hampir ikeluarkan karena tuduhan plagiat. Padahal kami yakin dia tidak bermaksud begitu, hanya tida menuliskan sumber informasin
Tulisan ibu Endang Rahayu Sedyaningsih untuk buku berjudul Secret of My Success: 50 Prominent Indonesian Share Their Lessons on Life and Remarkable Career yang akan diterbitkan oleh KBRI Washington DC (editor Dr. Dino Patti Djalal).
Artikel ini kami post on line sebelum launching buku untuk mengenang dan menghormati Almarhumah Endang Rahayu. Artikel ini memuat pandangan Almarhumah mengenai resep sukses dan pengabdian beliau.
******
Sebelum memulai, sebaiknya kita perjelas dulu satu hal : kisahkisah pribadi dalam buku ini sengaja diminta Editor untuk bergaya first person alias ber"saya." Jadi, mohon dimaklumi dan mohon maaf kalau dari awal sampai akhir, ceritanya tentang saya, saya dan saya lagi.
Awal Masa Bhakti
Saya . (ehm.. dimulai nih..) lulusan FKUI tahun 1979. Segera setelah lulus, atas perintah almarhum ayahanda (yang takut putri sulungnya tidak segera menikah dan akibatnya tidak segera punya cucu), saya menikah dengan dr. MJN Reanny Mamahit, teman sekelas yang telah menjalin hubungan perpacaran dan pertunangan selama 4 tahun. Setelah menikah, kami berdua bekerja di RS Pertamina Jaya (saya di poliklinik dan Reanny offshore) selama setahun. Tujuannya adalah mengumpulkan uang untuk bekal menjalani Wajib
Kerja Sarjana (WKS) sesuai amanah UndangUndang.
Kami memilih Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai daerah masa bakti. Ketika itu NTT termasuk daerah terpencil, dan kami cukup bekerja 3 tahun untuk bisa melanjutkan spesialisasi. Kisahkisah kami di NTT sangat seru dan mengesankan, tetapi tentunya tidak untuk ditulis di sini. Mungkin nanti di Kumpulan Kisah Seru Mengabdi di Daerah Terpencil. Ada yang berminat kontribusi? Pengalaman di NTT mengarahkan minat saya ke Kesehatan Masyarakat dan minat Reanny pada pelayanan klinis.
Singkat kata, tahun 1983 kami kembali ke Jakarta. Saya bekerja di Kanwil DKI Jakarta dan Reanny mengambil spesialisasi Kebidanan dan Kandungan di FKUI.
Mengapa saya tidak melanjutkan sekolah? Karena mau punya anak dulu dan mengurus rumahtangga (. ideal sekali ya?). Apa mau dikata, karena memang bukan orang rumahan, saya menjadi bosaaan sekali! Otak rasanya jadi tumpul. Jadi tahun 1987 dengan beasiswa saya mengikuti kursus tentang Nutrisi elama 6 bulan di Wageningen, Negeri Belanda. Putra saya sudah 2 ketika itu, 7 tahun dan 3 tahun, saya titipkan kepada suami dan ibunda tercinta.
Pendidikan di AS
Tahun 1990 saya merasa gelisah lagi dan mulai "berburu" beasiswa, kali ini untuk mengambil Master of Public Health (MPH). Di Kementerian Kesehatan ternyata hanya ada beasiswa untuk orangorang yang bekerja di daerah sulit, dan karena status saya sudah pegawai di Jakarta, maka sudah tidak eligible lagi.
Untung berjumpa teman yang memberikan informasi tentang program di BAPPENAS. Sayapun mendaftar dan mengikuti serial test yang diadakan oleh Overseas Training Office (OTO), BAPPENAS, mulai dari Test Potensial Akademik (TPA) sampai TOEFL. Semua dapat dilalui dengan baik, dan saya harus mengikuti
kelas persiapan selama 1 bulan. Lamanya kelas persiapan ini tergantung berapa tinggi nilai TOEFL yang diperoleh, ada yang 1, 3, 6 bulan, sampai setahun. Selama kelas persiapan tersebut kami boleh mendaftar ke 4 perguruan tinggi yang diminati di luarnegeri.
Nah.. berhubung ayah saya Master dan Doktor lulusan Amerika Serikat, begitu juga adik, ipar, dan beberapa sepupu, maka otomatis perhatian sayapun tertuju hanya ke AS. Selagi bimbang memilih, seorang teman sekelas persiapan seorang wanita muda dari Makassar berkomentar : "Mbak kan pintar.. pilih Harvard dong!" Memang di kelas persiapan angkaangka saya cukup lumayan, tapi Harvard??? Wah, mungkin ketinggian buat saya.. Tapiii. saya pikirpikir lagi, apa salahnya sih mencoba? Jadi, saya mendaftar ke Harvard School of Public Health (HSPH), John Hopkins University, East West Center Hawaii, dan Tulane University. Dan ternyata. baik HSPH maupun JHU, keduanya menerima saya. Saya sudah tidak memonitor lagi hasil dari 2 universitas yang lain, karena sibuk meloncatloncat gembira, bisa diterima di 2 universitas top dunia!! Ini bahasa kiasan sejujurnya saya tidak bisa meloncatloncat lagi ketika itu, karena saya sedang HAMIL TUA! Yahh. rupanya program KB kami sedikit meleset. Rayi, anak perempuan kami satusatunya, lahir 11 tahun setelah Ari (putra sulung) dan 7 tahun setelah Wandha (putra ke 2) lahir.
Ketika waktunya tiba untuk berangkat, Rayi berusia 8 bulan. Tentu saya ingin sekali membawanya serta. Tetapi peraturan tidak membolehkan. Maka berangkatlah saya sambil menangis tersedusedu, meninggalkan bayi yang terpaksa disapih. Harvard menjadi tujuan saya.
Selain namanya yang lebih ngetop, juga kebetulan karena ketika itu ada sepupu saya (Handrito) yang sedang belajar di Harvard Kennedy School, membawa istri dan 2 anaknya. Saya pikir, lumayanlah, supaya tidak terlalu merasa kesepian di negeri orang. Jadi saya mendarat di Logan Airport, Boston, dan langsung naik taxi ke Peabody Terrace, Cambridge, mencari apartment keluarga Handrito. Hanya beberapa hari saya menumpang di sana, sudah mendapat tempat di apartment Shattuck, Boston, yang khusus untuk mahasiswa HSPH dan yang hanya berjarak 10 15 menit dari HSPH.
Orang Indonesia cukup jarang yang mengambil MPH di HSPH, di program Doctor malah belum ada samasekali. Di tahun 1991 tersebut, kebetulan ada Dr. Bimo yang sedang menjadi Takemi fellow, untuk program postdoc selama setahun, etelah sebelumnya meraih gelar MPH di HSPH. Mas Bimo suamiistri dengan 2 anak, juga tinggal di Shattuck House, sangat membantu saya untuk settle down.
Harihari pertama dilalui dengan banyak kebingungan. Terlalu banyak hal yang harus dilakukan dan semuanya diumumkan melalui kertaskertas yang ditempel di sanasini. Saya otomatis mencari wajahwajah Asia yang lain, supaya bisa bingung bersamasama dan langsung berteman dekat dengan 4 orang dokter
pria Asia, yang tadinya juga tidak saling mengenal satu sama lain. Ke 4 orang ini seterusnya menjadi sahabat karib yang hingga saat ini terus menjalin komunikasi.
Begini urutan persaudaraan kami berdasarkan umur: yang tertua dr. Hector Jalipa (berkebangsaan Filipina, tetapi membaktikan hampir seluruh hidupnya di Afrika), lalu saya, kemudian dr. Naomasa Hirota (orang Jepang, spesialis lambungusus), dr. Somsit Chunharas (berkebangsaan Thailand), dan yang termuda dr. Ravindra RannanEliya (orang Srilanka, lulusan Inggris).
Banyak hal kami lalui bersama, terutama di kelaskelas wajib, seperti Biostatistik dan Epidemiologi. Kami semua (kecuali Naomasa yang mengambil program Master of Occupational Health selama 2 tahun) mengikuti program MPH International Health selama setahun. Saya orang yang termasuk rajin. Jadi biasanya pekerjaan rumah pekerjaan rumah seperti membuat paper, menyelesaikan soal, dsb saya selesaikan awal; malah kadangkadang seminggu ebelum due date sudah selesai. Karena itu saya selalu diomeli sahabatsahabat saya; terjemahan bebasnya : Jangan deketdeket.. bikin stres aja loe..!! Ravi otomatis merupakan sahabat yang bahasa Inggrisnya paling Inggris, disusul Hector. Soal eksakta, Ravi juga paling pandai, disusul Naomasa dan saya.
Soal olahraga, haha Naomasa, Somsit dan saya paling getol main tennis dan berenang. Perkara gadget, Somsit jagonya. Soal art and entertainment, Hector punya pengetahuan luas. Hector berhasil meracuni saya, sehingga saya tergilagila pada pertunjukan musik ala Broadway di New York (New York ketika itu 5
jam naik bis dari Boston). Show yang pertama saya tonton adalah Miss Saigon. Kemudian disusul dengan Les Miserables (ini yang menurut saya paling bagus, kalau belum nonton . nonton deh!), Phantom of the Opera, Blood Brothers, My Fair Lady, dll, dll, dll. Hobi nonton show ini saya teruskan sampai sekarang,
apanpun saya berkesempatan ke New York atau London. Showshow terakhir ang saya tonton: Lion King, Mamma Mia, Wicked dan Spiderman.
Mendatangkan Anak-anak ke AS
Sejak saya tiba di Boston, niat saya untuk mendatangkan anakanak ke AS sudah saya tanamkan. Peraturan OTO membolehkan kami membawa keluarga setelah 6 bulan, tetapi saya bertekad untuk mendatangkan mereka secepatnya.
Jadi saya mulai mencari apartment yang memadai untuk keluarga, mencari sekolah, mencari persyaratan imunisasi, dsb. Cukup sulit, dan semua harus dikerjakan sendiri, di selasela kuliah dan belajar. Akhirnya di bulan November 1991, saya pindah ke Peabody Terrace di Cambridge, ke apartment dengan 2 kamar. Beberapa orang Indonesia dari Harvard Law School, Harvard Education School dan Harvard Kennedy School (termasuk Handrito sepupu saya) tinggal di Peabody juga. Perjuangan dimulai dengan mengisi apartment, karena tidak furnished. Saya sangat dibantu oleh Handrito dan Agus Wirahadikusuma (ketika itu masih Kolonel, sekarang sudah almarhum), mengangkatangkat kasur, sofa sb. Terimakasih banyak yaa.
Ari (10 tahun) dan Wandha (7 tahun) datang diantar ibu mertua (sekarang sudah almarhumah), yang belum pernah keluar negeri sebelumnya. Reanny, suami saya, melarang Rayi si bungsu untuk dibawa, khawatir mengganggu studi saya. Ari dan Wandha langsung masuk King School yang jaraknya sangat dekat
dengan apartment kami, kelas 2 dan kelas 5. Mereka samasekali tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi bisa cepat menyesuaikan. Mammi (ibu mertua), bersama beberapa ibu Indonesia lain, ikut kursus bahasa Inggris. Mammi jago masak, jadi banyak ibuibu Indonesia yang belajar masak darinya. Sayang, saya menantunya, tidak ada waktu untuk belajar masak, di samping memang tidak suka masak. Dua bulan menjelang wisuda, mammi harus pulang ke Indonesia.
Karena peraturan di Amerika melarang anakanak ditinggal di rumah sendiri, maka saya meminta adik perempuan saya (yang baru lulus sarjana dan masih menganggur) untuk datang menggantikan mammi. Adik saya sama nol nya engan saya perkara masak, karena itu anakanak sempat protes, yang itawarkan cuma: telur rebus, atau telur ceplok, atau telur dadar ..
Program Doctor of Public Health
Almarhum ayahanda pernah berpesan agar sedapat mungkin anakanaknya meraih gelar doctor. Adik lakilaki saya ketika itu sedang mengikuti program doctor di Cornell University. Maka di penghujung semester 1, saya
mulai konsultasi dengan pembimbing saya untuk hal tersebut. Ternyata saya harus membuat proposal untuk dapat mendaftar dalam program Doctor of Public Health (DPH). Saya berminat mempelajari AIDS karena masalah tersebut relatif baru di Indonesia.
Saya mendekati banyak professor yang potensial untuk menjadi pembimbing utama. Karena saya lebih menekankan pada aspek perilaku, maka akhirnya saya meminta Professor Kristian Heggenhougen (seorang ahli medikoantropologi berkebangsaan Norwegia) untuk menjadi pembimbing utama. Saya masih harus melalui wawancara oleh Ketua Program Studi yang ketika itu malah menganjurkan saya untuk belajar di Australia saja, karena lebih dekat. Saya menolak dan bersikeras. Tentu saja ini merupakan kerja ekstra, padahal banyak ujian yang masih harus saya tempuh untuk gelar MPH. Karena itu Somsit berkomentar: Endang. are you crazy? Do you want to burn yourself?
Akhirnya mendekati wisuda, saya memperoleh kepastian bahwa diterima untuk program DPH. Sekarang saya bingung yang lain lagi. Siapa yang akan bayar? Saya berupaya menghubungi OTO BAPPENAS. Lalu, kirakira.. apakah Kementerian Kesehatan akan mengizinkan saya? Ketika itu aturannya harus mengabdi selama
2 tahun (2x masa studi) sebelum boleh belajar lagi. Karena urusan masih banyak, aka saya memohon kepada HSPH agar program DPH saya itu boleh ditunda ampai semester berikut.
Rayi tidak mengenali ibunya
Suami saya datang menghadiri wisuda saya. Rayi tentu saja dibawa. Ia sudah berumur 18 bulan. Di bandara kami bertemu lagi. Dalam gendongan ayahnya, ia memandangi saya. Tapi menolak untuk saya gendong. Bahkan memutarkan tubuhnya membelakangi saya. Aduh.. tidak terkirakan rasa sedihnya! Tibatiba Ari dan Wandha menghambur ke depan, tertawatawa di 5 depan Rayi. Dan Rayipun langsung tertawa, menjulurkan badannya ke arah abangabangnya. Ia mengenali mereka! Saya yakin Rayi pasti masih mengenali saya, hanya saja ia marah. Samasekali tidak mau berkomunikasi dengan saya. Berharihari saya membawa Rayi bermain di tepi sungai bersama Ari dan Wandha. Saya terus berupaya menggapai hatinya. Belum berhasil
Sampai suatu sore, saya berdiri di depan cermin, mencoba sebuah Tshirt pemberian seorang teman dari Afrika. Tulisannya Hakuna Matata. Ketika itu katakata tersebut masih asing bagi saya (belum ada
film Lion King). Jadi saya mengulangulang katakata tersebut di depan cermin, sambil berjoget gaya Afrika: Haaakuna matataaa haaaakuna matataaaa..! Tibatiba saya mendengar tawa geli Rayi. Rupanya ia sedang duduk dan mengawasi saya dari belakang. Lalu katanya: Lagi. lagi..! Sayapun
melonjak gembira, saya tertawa sambil menangis. Akhirnya. Rayi mau erbicara dengan ibunya. Rayi saya gendong, dan kami berdua menari berputarputar: Haaakunaa..matataaa.. haakunaaa matataaa!!
Perjuangan tak henti
Setiba kami di Indonesia, sambil bekerja kembali di Kanwil DKI Jakarta sebagai staf biasa, saya mulai mengurus beasiswa dan izin berangkat ke AS lagi. Karena nilai TPA dan TOEFL masih berumur kurang dari 2 tahun, OTO tidak mengharuskan saya test lagi. Kebijakan mereka saat itu adalah mendorong sebanyak mungkin perempuan untuk meraih gelar doctor. Karena itu, dalam waktu beberapa bulan saya sudah memperoleh beasiswa untuk program doctor di HSPH.
Namun kegembiraan tersebut tidak berarti, Kementerian Kesehatan berkeras saya harus menunggu 2 tahun lagi. Betapapun saya mengatakan bahwa bila menunggu 2 tahun lagi maka saya harus memulai semua test dari awal, dan harus melamar kembali ke HSPH. Saya berjanji tidak akan keluar dari Kementerian Kesehatan untuk membayar semua masa bakti saya. Tidak berhasil! Maka selama 8 bulan saya bolakbalik ke Kemenkes, sebulan 2 kali.
Kadangkadang pagi jam 7, kadangkadang sore sesudah jam kerja. Tujuan saya adalah memperoleh izin dari Kepala Biro Kepegawaian, yang sebetulnya kenal baik dengan keluarga saya. Setiap pulang, saya selalu meneteskan airmata, karena jawabannya TIDAKTIDAK dan TIDAK..! Banyak orang menganjurkan saya untuk berhenti berusaha, mereka lelah melihat upaya saya yang tidak kunjung berhasil. Untunglah suami saya terus mendorong saya. Ia mendampingi saya dalam menyelesaikan persoalanpersoalan dan menghadapi semua tantangan. Kadangkadang, selagi menunggu kesempatan bertemu dengan Karo Kepegawaian atau pejabat Kemenkes lain, saya berjumpa dengan orangorang yang tidak saya kenal. Beberapa dari mereka menyemangati saya dan berkata: Selamat berjuang ya dok. Saya doakan agar menjadi Menteri Saya tidak mengerti apa yang mendorong mereka engatakan hal tersebut. Umur saya masih 37 tahun, dan citacita saya cuma
au meraih gelar doctor dari HSPH.
Saya berupaya menemui Menteri Kesehatan. Saya menunggu di gedung DPR, karena kalau di kantor Kemenkes tidak akan mungkin boleh menemui beliau. Kebetulan ketika itu Menkes sering ke DPR karena sedang membahas RUU Kesehatan. Usai sidang saya mendekat. Menkes tercengang dan bertanya: Apa
anda wartawan? Dalam waktu 3 menit saya berupaya menjelaskan persoalan yang saya hadapi. Beliau tercenung lalu mengatakan: Saya tidak melihat mengapa anda tidak boleh melanjutkan studi. Silakan ke kantor saya. Bukan main gembira hati saya. Saya mencoba menemui beliau di kantor. Ternyata sulit sekali. Sampai suatu saat, sekretaris pribadinya keluar ke ruang tamu. Ternyata ia teman sekelas di SMA. Tanpa basabasi dan protokoler, ia mengajak saya masuk menemui Menkes. Menkes belum lupa. Ia menuliskan beberapa kalimat yang ditujukan ke Sekretaris Jenderal. Saya terseyum menyalami Menkes: Bapak tidak akan menyesali keputusan ini, pak. Saya berjanji membaktikan seluruh hidup saya untuk kesehatan masyarakat
Indonesia.
Sudahkah selesai perjuangan? Ternyata belum. Saya dipanggil Sekjen dan dimarahi. Dikatakan bertabiat jelek, sombong (karena lulusan Harvard), dsb. Begitu juga Karo Kepegawaian tidak senang. Proses suratmenyurat dijalankan dengan sangat lambat. Sementara itu, tahun sudah bergulir ke 1993. Kuliah semester berikut sudah dimulai di HSPH, dan saya belum datang juga.
Saya tidak berputus asa. Dari Jakarta saya memilih kuliahkuliah yang akan saya ambil. Saya berpesan kepada Naomasa yang masih di HSPH ketika itu, untuk menitipkan alat perekam di kuliahkuliah yang akan saya ambil. Akhirnya bulan Februari 1993 saya memperoleh izin dari Kemenkes. Pegawaipegawai Biro Kepegawaian ikut menyalami saya, sambil berkata: Terusterang dok, belum pernah kami lihat orang yang segigih dokter. Bolakbalik, bolakbalik, pantang menyerah ya dok? Saya tersenyum saja. Bagi saya tidak ada pilihan, selain satu hal: HARUS BERHASIL. Tahun 1997 saya menjadi Doctor of Public Health lulusan HSPH yang pertama ari Indonesia, dengan GPA 3,84.
Bergaul di AS
Bergaul di AS tidak selalu berarti bergaul dengan orang Amerika, karena begitu banyak orang dari mancanegara belajar di AS. Sedari muda saya dibiasakan bergaul dengan orangorang asing. Ayah saya seorang guru besar di IKIP Jakarta (menjadi Rektor periode 1980 1984). Walaupun rumah kami kecil,
beliau selalu bersedia menerima mahasiswamahasiswa asing mondok di rumah secara bergiliran. Kami pernah ketempatan mahasiswa Jepang, Australia dan Amerika. Mahasiswa Amerika yang juga merupakan teman kuliah ayah di AS ini banyak mengajari saya tentang budaya di AS, selain mengajari saya bahasa Inggris Amerika.
Saya beruntung belajar di sekolah yang jarang orang Indonesianya.
Dan memang saya bertekad untuk bergaul sebanyak mungkin dengan orangorang internasional, mumpung di luar negeri. Saya tidak mau seperti anekdot, di Amerika orang Batak jadi bisa bahasa Jawa, saking seringnya bergaul dengan 7 mahasiswamahasiswa Jawa. Tentu sekalisekali saya ikut kumpulkumpul dengan orang Indonesia. Seperti waktu Lebaran atau ketika kami mengadakan Malam Indonesia di Peabody Terrace. Saya menyumbangkan tari Jaipong, selain ikut dalam vocal group menyanyikan Euis dan Sepasang Mata Bola. Ngomongngomong soal Jaipong, setiap tahun saya juga menari di malam internasional di HSPH.
Di awal studi, saya jarang mengacungkan jari minta bicara. Karena selalu terlambat. Saya masih memikirkan mau bicara apa, orang lain sudah acung jari. Padahal saya lihat orang tersebut juga belum siap bicara. Jadi dia berpikir sambil bicara. Wah.. kalau begini caranya, saya tidak bakal punya kesempatan mengemukakan pendapat saya. Maka sayapun belajar berpikir sambil bicara.
Yang penting acung jari dulu, supaya dapat kesempatan bicara.hehehe!! Dalam bergaul tentu saya pernah mengalami halhal yang tidak enak. Di awal studi, seorang mahasiswa Amerika yang bangga karena pernah bekerja beberapa bulan di India, mengomentari kontribusi saya dalam group. Katanya tulisan saya tidak mengandung cukup meat and potatoes atau meat and carrots ya? Saya lupa. Intinya, jeleklah pokoknya. Saya tersinggung berat. Tetapi saya sadar bahwa saya harus berusaha memperbaiki gaya tulisan. Yang biasa saya tulis hanya pokokpokok pikiran dan tidak dielaborasi. Di AS gaya begini akan tampak miskin ide, terutama di sekolah ilmu sosial macam HSPH. Jadi saya berupaya keras menuliskan ideide pokok menjadi paragrafparagraf.
Kekurangan lain mahasiswa Asia pada waktu itu adalah sering lupa menyebutkan sumber tulisannya. Seorang rekan Asia bahkan hampir ikeluarkan karena tuduhan plagiat. Padahal kami yakin dia tidak bermaksud begitu, hanya tida menuliskan sumber informasinya.
Sebagai Peneliti bertahuntahun setelah saya meraih gelar doctor, kadangkadang masih timbul rasa tidak percaya, bagaimana saya sanggup melewati semua itu. Perpisahan dengan anakanak lagi, menyelesaikan begitu banyak pekerjaan rumah, melewati musim dingin yang berat, melakukan analisis data sendiri (di tahun terakhir sudah tidak ada kelas lagi, kerja individual saja), menulis disertasi yang tebalnya seperti bantal, dsb, dsb. Rasa syukur ke hadirat Allah selalu terucap di saatsaat mengenang perjuangan yang lalu. Akibatnya, sebenarnya saya sudah merasa selesai ketika saya sudah berhasil mendapatkan gelar Doctor of Public Health. Saya tidak punya ambisi yang lain lagi.
Namun nasib berkata lain. Saya tentu memenuhi janji saya untuk kembali mengabdi sebagai PNS di Kementerian Kesehatan. Karena sudah S3, maka saya dipindahkan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Tadinya saya berniat konsentrasi di Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS. Tetapi kemudian saya diberi tugas sebagai peneliti Emerging Infectious Diseases, dengan lingkup yang lebih luas. Semua tugas tidak ada yang saya tolak. Semua saya upayakan selesai dengan sebaikbaiknya.
Karena kemampuan bahasa Inggris, maka saya juga mendapat tugas sebagai fund getter bagi rekanrekan saya sesama peneliti. Saya melakukan lobi, menulis proposal dan menjadi 8 perantara untuk banyak penelitian kerjasama internasional. Saya juga berupaya agar juniorjunior bisa terus melanjutkan studi. Walaupun tanpa ambisi, karena semua tugas selesai dengan baik, maka saya kembali masuk jalur cepat. Saya dipilih menjadi wakil ketua Komisi Ilmiah Balitbangkes, yang sebagian besar adalah penelitipeneliti senior. Tak lama kemudian saya menjadi ketuanya. Belum lagi jabatanjabatan fungsional lain. Tahun 2007 saya diangkat menjadi Kepala Puslitbang Biomedis dan Farmasi, namun dikembalikan menjadi peneliti agi tahun 2008.
Menjadi Menteri Kesehatan RI
Saya kembali menjalani harihari mengasyikkan sebagai peneliti. Sampai suatu hari di mana saya memperoleh tilpon yang mengejutkan. Dari pak Sudi Silalahi, yang meminta saya datang waktu itu juga ke Cikeas. Cerita tentang ini sudah banyak dimuat, termasuk di buku Selendang Panjang bu Menkes, karangan Isye Soentoro, seorang wartawati sahabat saya. Ternyata Allah mengabulkan perkataan/doa/harapan orangorang yang berjumpa dengan saya ketika saya berjuang memperoleh izin studi S3, yang bahkan sudah saya lupakan siapasiapa mereka itu. Allah juga memberi kesempatan saya memenuhi janji saya di hadapan Menkes ketika itu.
Setelah melalui berbagai test, saya diangkat menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu II.
Sebagai Menkes tentu tantangan yang saya hadapi jauh, jauh, lebih besar. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak, jumlah penduduk miskin masih di atas 10%, situasi geografis Indonesia yang tidak mudah, kondisi tanah air yang rawan bencana, sumber daya manusia kesehatan yang masih kurang (kuantitas, kualitas, dan distribusi), perilaku hidup yang belum sehat, anggaran yang belum memadai, serta beban penyakit menular dan tidak menular yang cukup tinggi.
Tetapi sikap mental saya dalam menghadapi tantangan tersebut masih tetap sama. Selesaikan satupersatu, selalu optimis, pantang menyerah, dan menggandeng semua pihak untuk bekerja bersama mencapai tujuan yang dicitacitakan. Tidak ada dendam, tidak ada sakit hati, karena tujuan yang lebih mulia ada di depan. Banyak wartawan asing menanyakan, apakah saya optimis Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan bisa tercapai? Saya jawab, HARUS OPTIMIS! Karena saya selalu percaya katakata bijak: selangkah maju berarti selangkah lebih dekat ke tujuan.
Tahun ini menginjak tahun ke 3 saya menjadi Menteri Kesehatan. Perjalanan masih panjang. Apapun bisa terjadi antara sekarang dan tahun 2014. Kementerian Kesehatan mempunyai tugas berat untuk mewujudkan universal coverage untuk jaminan kesehatan di tahun 2014. Kalau Negara lain mampu mewujudkan, maka Indonesia juga HARUS BISA!! Sekali lagi, kita tidak punya pilihan lain selain: BERHASIL!!
Penutup Terimakasih sudah membaca kisah singkat saya. Mudahmudahan bisa
diambil manfaatnya. Pamit.
* Mantan Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu II
Pewarta : Endang Rahayu Sedyaningsih *
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
