
Sulut daerah teraman dan toleran

Pemerintah dan masyarakat mengucapkan terima kasih yang tinggi atas kepercayaan yang diberikan kepada Sulut menjadi lokasi penyelenggaraan AEYA 2018 ini,
Manado, (Antaranews Sulut) - Sebanyak 350 dari 17 negara di Asia mengikuti "Asian Ecumenical Youth Assembly" (AEYA) 2018 yang digelar di Sulawesi Utara (Sulut) hingga 13 April mendatang.
Provinsi berpenduduk lebih dari 2,5 juta jiwa itu disebut teraman dan toleran di tengah kemajemukan, kata Gubernur Olly Dondokambey.
"Pemerintah dan masyarakat mengucapkan terima kasih yang tinggi atas kepercayaan yang diberikan kepada Sulut menjadi lokasi penyelenggaraan AEYA 2018 ini," kata Gubernur di Manado.
Negara-negara yang berpartisipasi dalam kegiatan ini yaitu Indonesia, Malaysia, Hongkong, Kamboja, Myanmar, Bhutan, Jepang, Srilanka, Bangladesh, Korea, Australia, India, Pakistan, Filipina, Nepal, Taiwan dan New Zealand.
Menurut Gubernur, dipilihnya Sulut sebagai lokasi penyelenggaran adalah tepat. Alasannya, provinsi berpenduduk lebih dari 2,5 juta jiwa itu masih menjadi daerah dengan stabilitas keamanan yang terkendali di tengah-tengah keberagaman etnis, religi, budaya dan adat istiadat.
Provinsi ini, lanjut dia, disebut-sebut sebagai salah satu daerah teraman dan toleran dengan indeks toleransi tertinggi pertama serta indeks kebahagiaan tertinggi ketiga di Indonesia.
Kondusifitas wilayah serta prestasi yang diraih ini, Gubernur Olly menyatakan kesiapannya menyelenggarakan iven internasional yang lebih besar yakni "Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia" pada tahun 2020 mendatang.
Sekretaris Jenderal Christian Conference of Asia (CCA) Dr Mathews George Chunakara menyatakan komitmen penuh intituasinya mendukung lancarnya acara ekumenis utama yang terbuka secara eksklusif untuk anak muda Kristen Asia.
"Kami sangat senang ikut memfasilitasi acara ekumenis utama yang terbuka secara eksklusif untuk anak muda Kristen Asia. Orang-orang Asia, terutama kaum muda, menghadapi banyak tantangan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Dia berharap, AEYA akan membantu setiap peserta mendiskusikan dan merefleksikan masalah yang mereka hadapi dalam konteks masing-masing.
Chunakara menuturkan, tantangan yang dihadapi anak muda Kristen Asia saat ini berbeda dibandingkan dengan persoalan yang terjadi di masa lalu sehingga AEYA diharapkan menjadi terdepan dalam menghadapinya.
"Isu-isu pemuda saat ini jauh berbeda dari apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Kami berharap AEYA akan secara efektif menangani beberapa masalah Asia yang paling relevan dan bertindak sebagai pendahulu untuk perubahan besar dalam beberapa hari mendatang," tandasnya.
Beberapa isu dan tema utama yang diangkat dalam EAYA tahun ini adalah "Menuju, Membentuk Dunia yang Berubah: Peran Pemuda Asia", "Saksi Nabi terhadap Kebenaran dan Cahaya: Perspektif Teologis Alkitabiah", "Merangkul dan Menghargai Keragaman dan Martabat Manusia".
Selanjutnya, "Mengubah Nilai-Nilai dan Budaya Keluarga di Asia: Suara Antar Generasi", "Intoleransi Agama dan Politisasi Agama", "Kecerdasan Buatan: Masa Depan Kaum Muda Asia` dan "Perdagangan Orang dan Orang-Orang yang Bergerak di dalam dan di Luar Asia".
Pembukaan "EAYA 2018" secara resmi ditandai dengan pemukulan "tetengkoren" oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI Cecep Herawan.
Selanjutnya, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengajak pemuda gereja mensyukuri Kebangkitan Kristus atas maut untuk menebus dosa manusia.
Ajakan tersebut dikatakan Menteri saat menghadiri selebrasi paskah "Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) yang digelar di di lapangan Maesa Tondano Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
"Kematian dan kebangkitan Kristus yang diperingati dalam Paskah merupakan kebenaran bagi kehidupan manusia," kata Menteri Yasonna, Minggu.
Momentum Paskah adalah anugerah besar di mana Allah telah memberikan anaknya yang tunggal Yesus Kristus menebus dosa manusia.
"Marilah sebagai pemuda gereja memaknai pengorbanan Kristus dengan menjadi agen perubahan, menyampaikan berita kebenaran bagi dunia sehingga damai sejahtera selalu ada dalam kehidupan manusia," ajaknya.
Kaum muda diharapkan juga menebar bibit kasih perdamaian di tengah kemajemukan masyarakat di Indonesia.
Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pdt Henriette T. Hutabarat-Lebang MTh saat memimpin ibadah selebrasi Paskah mengajak kaum muda menjadi agen pemersatu bangsa.
"Sebagai kaum muda gereja jadilah murid Kristus yang memiliki integritas, menjauhi berita hoax serta tetap memberitakan kebenaran," ajaknya.
Dia juga berharap, melalui AEYA kaum muda di Asia bisa menjaga kemajemukan sehingga terjadi hubungan yang baik antarsesama negara di kawasan ini.
Dalam ibadah selebrasi paskah tersebut turut dihadiri Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw, Presiden Christian Conference of Asia (CCA) Pdt WTP Simarmata MA, Ketua Umum PGI Pdt Dr Henriette Tabita Lebang MTh, The First Youth Secretary of CCA Bishop Dr Soritua AE Nababan, Dubes RI untuk Serbia Montenegro Bapak Harry James Kandouw, Ketua Sinode GMIM Pdt Dr Hein Arina, Sekdaprov Edwin Silangen, SE, MS, Ketua Umum Panitia Ir. Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Wakil Ketua Umum Panitia dr. Kartika Devi Kandouw-Tanos MARS, pejabat Pemprov Sulut, dan peserta AEYA.
Ibadah selebrasi Paskah ini juga dimeriahkan oleh juara Indonesia Idol 2004 dan 2016 Joy Tobing dan Regina, selesai ibadah, dilanjutkan dengan pawai paskah diikuti oleh seluruh peserta.***adv***
Pewarta : Karel Alexander Polakitan
Editor:
Karel Alexander Polakitan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
