Logo Header Antaranews Manado

Inggris bangun gugus tugas untuk buka Selat Hormuz

Rabu, 18 Maret 2026 07:48 WIB
Image Print
Sebuah kapal komersial terlihat berlabuh di lepas pantai Uni Emirat Arab, di Selat Hormuz, Dubai pada 2 Maret 2026. Peningkatan lalu lintas maritim menyebabkan penumpukan kapal yang menunggu di dekat Dubai, menyoroti pentingnya strategis selat tersebut, yang menangani 20 persen perdagangan energi global. ANTARA/Stringer/Anadolu/pri.

Washington (ANTARA) - Inggris telah mengusulkan pembentukan gugus tugas multinasional dan membagi rencana itu dengan AS dan negara-negara lain terkait permasalahan lalu lintas di Selat Hormuz, menurut Axios pada Selasa, mengutip beberapa sumber.

Pemerintah AS menginginkan Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Australia, Kanada, Yordania, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Teluk untuk bergabung dalam koalisi tersebut.

Tetapi, beberapa negara menanggapi inisiatif itu dengan skeptis, sementara yang lain menolak dengan tegas, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.

Mereka menambahkan bahwa rancangan Inggris tersebut belum diperlihatkan kepada semua negara yang diminta AS untuk bergabung.

"Situasinya kacau. Banyak orang bingung," kata seorang diplomat Eropa kepada Axios.

Pada Senin, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS tidak membutuhkan bantuan dari negara lain untuk menangani pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, dia mengklaim bahwa "banyak negara" telah mengatakan kepadanya bahwa mereka "sedang dalam upaya" untuk membantu AS.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi di sekitar wilayah Iran telah menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Blokade juga memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.

Sumber: Sputnik-OANA




Pewarta :
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026