Moskow (ANTARA) - Rusia tertarik membantu meredakan ketegangan di semua kawasan, termasuk yang menyangkut Venezuela dan Iran, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Selasa (20/1).
"Kami tertarik membantu menurunkan ketegangan di semua kawasan yang kini meningkat dan telah saya sebutkan, baik itu Venezuela dan terutama situasi Iran,” ujar Lavrov dalam konferensi pers tentang hasil diplomasi Rusia sepanjang 2025.
Ia juga menyerukan penghormatan terhadap hak Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai, seraya menambahkan bahwa hal tersebut perlu dijadikan kunci untuk meredakan ketegangan dengan Teheran.
Gelombang protes melanda Iran pada akhir Desember 2025 di tengah kekhawatiran atas meningkatnya inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang lokal, rial.
Sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, aksi tersebut semakin intensif. Pada hari yang sama, akses internet di negara itu diblokir.
Di sejumlah kota, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi ketika demonstran meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah. Ada laporan soal korban di kalangan aparat keamanan dan demonstran.
Pada akhir Desember, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika negara itu berusaha melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklir.
Trump kemudian mengancam akan melancarkan serangan besar ke Iran jika pengunjuk rasa terbunuh. Ia juga berjanji mendukung rakyat Iran jika diperlukan.
Pada 3 Januari, AS melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Keduanya kemudian diterbangkan ke New York untuk diadili berdasarkan hukum AS atas tuduhan "narko-terorisme."
Mahkamah Agung Venezuela kemudian mengalihkan jabatan presiden untuk sementara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti

