Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5 persen year-on-year (yoy) pada tahun 2026.
Meskipun proyeksi tersebut menunjukkan stabilitas perekonomian domestik, ia meminta pemerintah agar tidak hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai mesin pertumbuhan nasional.
“Mengaktifkan mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang lain itu suatu hal yang fardhu ain (wajib) gitu ya. Jadi cukup sudah ya, konsumsi rumah tangga ini sudah terlalu lama ya mendominasi dan berkontribusi secara dominan terhadap pertumbuhan ekonomi (domestik),” ujarnya di Jakarta, Senin.
Esther menilai tantangan ekonomi ke depan masih cukup berat, mengingat perkembangan geopolitik global dan dinamika fragmentasi perdagangan internasional masih sulit diprediksi.
Sementara itu, pemulihan ekonomi domestik Indonesia masih belum maksimal karena tekanan harga komoditas pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor, mulai dari barang modal hingga bahan pangan, sehingga devisa negara justru kembali mengalir ke luar negeri.
Esther mengatakan, berbagai faktor tersebut membuat fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, sehingga mengurangi daya saing Indonesia.
“Kalau dilihat ya, negara tetangga itu kan ada Singapura, Malaysia, Thailand, dan seterusnya, mereka memang terdampak (dinamika perekonomian global), tetapi karena imunitas pertumbuhan ekonominya itu relatif kuat, jadi terdampaknya enggak parah-parah banget gitu,” katanya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pihaknya mendorong penguatan fundamental ekonomi domestik dengan tidak meletakkan seluruh beban pertumbuhan pada daya beli masyarakat semata.
Ia menuturkan, belanja pemerintah (government spending) harus berperan lebih efektif dalam menghasilkan dampak berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian rakyat, sedangkan sektor ekspor perlu dikembangkan untuk memproduksi lebih banyak komoditas bernilai tambah tinggi.
“Investasi, kemudian ekspor, dan pengeluaran pemerintah ini juga harus aktif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga peran dari investasi, ekspor, dan pengeluaran pemerintah ini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi tidak hanya 5 persen tapi bisa mencapai lebih dari 5 persen,” ucap Esther Sri Astuti.
Berikut ringkasan proyeksi Indef mengenai perekonomian Indonesia pada 2026.
- Pertumbuhan ekonomi: 5 persen
- Nilai tukar rupiah per dolar AS: Rp17.000
- Tingkat inflasi: 3 persen
- Tingkat Pengangguran Terbukan (TPT): 4,75 persen
- Tingkat kemiskinan: 8,45 persen
- Rasio Gini: 0,373

