
Mendikdasmen soroti krisis kebenaran terjadi di era digital

Medan (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu'ti menyoroti krisis kebenaran di era digital.
"Meski demikian kita tidak boleh putus asa dalam mencari kebenaran," katanya saat menyampaikan sambutan pada acara pengukuhan guru besar Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Medan, Senin, sekaligus memberikan pesan dan refleksi tantangan era post-truth serta perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Mengutip buku The Future of Truth
karya Werner Herzog, ia mengatakan buku itu menarik karena berisikan tentang dunia yang semakin kesulitan menentukan, mana fakta yang pabrikasi, mana yang hak dan mana yang hoaks.
Dia juga menyoroti kecerdasan yang lahir dari teknologi atau artificial inteligent yang merupakan kelanjutan dari kehadiran komputer. AI telah mengubah tata kehidupan manusia sehingga semakin tidak percaya kepada Tuhan.
“Di era ini agama selalu menghadapi tantangan salah satunya atheisme. Kemajuan teknologi membuat manusia merasa dirinya berkuasa padahal itu kehendak Tuhan," katanya.
Menurut ddia, di era post-truth kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu atau hukum, melainkan oleh popularitas dan viralitas.
“Viralitas sendiri bisa dikerjakan oleh robot,” tegasnya.
Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat manusia semakin tidak percaya kepada Tuhan dan mengalami kesepian serta kekosongan makna.
“Di sinilah kehadiran tokoh agama dan cendekiawan tetap diperlukan karena AI tidak bisa membangun mana yang benar dan mana yang salah,” ujarnya.
Menurut dia kehadiran sosok ulul albab dan ulul abshar mampu memandu masyarakat dengan ilmu dan wawasan. Di era saat ini, profesor bukan sekadar pangkat akademik, namun harus memiliki tiga keteladanan yaitu intelektual, agent of change peradaban, dan agent of change spiritual.
Sementara Rektor UMSU Prof Agussani dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa pengukuhan ini merupakan yang kedua di tahun 2026. Tahun ini UMSU menargetkan tujuh guru besar baru dan secara keseluruhan terdapat 34 guru besar yang sedang berproses.
“Proses hari ini yang kedua di tahun ini. Kami berharap apa yang disampaikan dalam pidato pengukuhan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dalam menjaga kualitas universitas,” katanya.
Pewarta : Juraidi
Editor:
Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
