Logo Header Antaranews Manado

Ratusan buruh titip delapan tuntutan ke Gubernur Sulut

Selasa, 2 September 2025 18:33 WIB
Image Print
Buruh yang melakukan demo di depan Kantor Gubernur Sulawesi Utara tertahan di pintu gerbang utama yang di sisi dalam berjaga personel satuan polisi pamong praja dan aparat kepolisian. ANTARA/Karel A Polakitan

KOTA MANADO (ANTARA) - Ratusan buruh yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Buruh Aksi Damai menitipkan delapan tuntutan saat melakukan aksi demo di depan pintu masuk Kantor Gubernur Sulawesi Utara pada Selasa.

"Ini satu kehormatan bagi buruh (kehadiran Gubernur menemui pendemo). Ini adalah pemimpin yang pertama bersama sama dengan buruh menerima buruh," kata salah satu orator di atas mobil komando Tommy Sampelan saat membuka orasi.

Tommy juga memberikan apresiasi kepada jajaran Forkopimda Sulawesi Utara yang datang menyambut kaum buruh saat melakukan demo, meski tidak memasuki area Kantor Gubernur di Jalan 17 Agustus, Manado.

"Kita yang berada di sini diharapkan menjaga situasi kondusif selama kegiatan berlangsung. Kita ingin Indonesia damai, Sulawesi Utara maju," ujar Tommy.

Berikut delapan poin tuntutan buruh saat aksi demo yaitu berantas pungli yang menghambat investasi, segera membentuk desk ketenagakerjaan Sulut, serta menghapus tenaga alih daya, dan naikkan upah buruh.

Selanjutnya, memecat pegawai Dinas Tenaga Kerja makelar kasus, memproses hukum pengusaha yang tidak ikutkan buruh program ketenagakerjaan, memberantas mafia dan korporasi, serta menstabilkan harga kebutuhan pokok untuk untuk rakyat.

Delapan tuntutan buruh tersebut dicetak tegas pada baliho berlatar biru muda yang tempel pada sisi kiri dan kanan kendaraan yang digunakan saat demo.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus mengatakan menerima semua aspirasi yang dibawa kaum buruh pada demo yang berlangsung damai tersebut.

Aksi demo kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ketua DPRD Sulawesi Utara Andi Silangen. Beberapa waktu kemudian masa pendemo kemudian membubarkan diri.



Pewarta :
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026