Logo Header Antaranews Manado

Sulut Kembangan Konsep Kelapa Tanpa Limbah

Selasa, 7 Oktober 2014 15:34 WIB
Image Print
Dr Caroline Ellen Pakasi (1)
Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengembangkan konsep "zero waste" atau hasil akhir tanpa limbah pada komoditas kelapa dan turunannya.

Manado, 7/10 (AntaraSulut) - Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengembangkan konsep "zero waste" atau hasil akhir tanpa limbah pada komoditas kelapa dan turunannya.

"Semua komoditas turunan kelapa diolah untuk menghasilkan jenis bernilai ekonomis tinggi, jadi semuanya diberdayakan tidak ada yang jadi limbah ," kata Staf Ahli Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Dr Caroline Ellen Pakasi, di Manado, Selasa.

Caroline mengatakan produk turunan kelapa, jika dimanfaatkan dengan baik, akan mendapatkan hasil akhir tanpa limbah atau "zero waste".

Dengan menggunakan teknologi pengolahan yang sederhana, katanya, dapat digunakan dengan memperhatikan cara pengolahan yang baik dan benar untuk mendapatkan standarisasi.

Sebagai contoh, katanya, air kelapa yang selama ini hanya dijadikan limbah, ternyata bisa dibuat menjadi asam cuka yang sangat diminati pasar domestik maupun internasional.

Asam cuka dari air kelapa ternyata berpotensi diekspor sebab banyak industri di luar negeri memerlukannya sebagai bahan untuk proses fermentasi.

"Ternyata asam cuka air kelapa ini memiliki peluang ekspor ke berbagai negara, karena sangat dibutuhkan dalam proses fermentasi, yang banyak dilakukan industri di luar negeri," katanya yang juga sebagai Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi.

Caroline mengatakan peluang ekspor produk asam cuka kelapa ke Amerika Serikat masih sangat terbuka.

"Peluang ini, diharapkan mampu dimanfaatkan petani kelapa di Sulut, khususnya di Kabupaten Minahasa Selatan," katanya.

Ekspor asam cuka ke AS, katanya, masih sangat terbuka dikarenakan permintaan produk cuka kelapa dari negara tersebut relatif besar.

Ternyata, kata Caroline, cuka berperan penting dalam pembuatan salad dressing, ketchup, hot sauce dan berbagai makanan lainnya.

"Hal tersebut, mengakibatkan permintaan asam cuka semakin besar, sehingga dibutuhkan kemampuan sistem fermentasi skala industri yang mampu menghasilkan cuka dalam jumlah yang besar," jelasnya.***2***



Pewarta :
Editor: Guido Merung
COPYRIGHT © ANTARA 2026