Logo Header Antaranews Manado

Tali kuning menjadi andalan suku Moi Kelin atasi berbagai penyakit

Kamis, 21 Oktober 2021 12:55 WIB
Image Print
Pemuda suku Moi di kampung Malaumkarta Raya bernama Hermanus Do saat mencari batang tali kuning di hutan sebagai obat tradisional. ANTARA/ Ernes Broning Kakisina

Manado (ANTARA) - Tanaman tali kuning masih menjadi andalan masyarakat suku Moi Kelin di Kampung Malaumkarta Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dan menambah daya tahan tubuh.

"Tali kuning tumbuh liar di hutan Malaumkarta Raya dan secara turun-temurun dikonsumsi masyarakat setempat sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit," kata Hermanus Do, pemuda suku Moi Kelin di Kampung Malaumkarta Raya, Kamis.

Hermanus Do yang biasa mencari tali kuning di hutan mengatakan, tanaman itu juga dikonsumsi sebagai vitamin dan penambah energi untuk beraktivitas setiap hari.

Menurut Hermanus Do cara memotong tali kuning di hutan tidak sembarang potong. Tidak boleh memotong pada bagian akar tetapi haru bagian cabang agar tali kuning obat tradisional tersebut tidak kering tetapi tunas baru kembali.

Hermanus menyampaikan bahwa tali kuning setelah diambil dari hutan dibawa pulang dan dipotong kecil-kecil kemudian dijemur hingga kering lalu direbus dan airnya diminum.

"Direbus hingga mendidih paling lama 30 menit. Setelah itu dibiarkan hingga dingin baru kemudian diminum," katanya.

Ia mengungkapkan, air tali kuning itu rasanya pahit melebihi obat malaria produksi pabrik, namun bagi yang sudah terbiasa minum, rasanya biasa saja seperti minum jamu.

Hermanus Do, pemuda suku Moi saat memproses tanaman tali kuning menjadi obat tradisional. ANTARA/Ernes Broning Kakisina


Hermanus berharap masyarakat adat Moi tidak melupakan obat tradisional yang merupakan salah satu warisan budaya warga setempat.

Hermanus Do sempat mengajak tim liputan Antara TV Jakarta berjalan kaki menelusuri kawasan Hutan Lingswok untuk mencari tali kuning obat tradisional suku Moi Kelin itu.

Perjalanan sejauh 1,5 kilometer itu sempat menelusuri pantai pasir putih melintasi mangrove dan sungai-sungai kecil. Perjalanan juga diiringi kicau burung menyemangati tim bersama Hermanus untuk mencari tanaman tali kuning yang tumbuh liar di hutan.



Pewarta :
Editor: Guido Merung
COPYRIGHT © ANTARA 2026