
Butuh Komitmen Tanggulangi Aids

Penyebaran HIV dan Aids di Indonesia ibarat "bola salju" yang terus menggelinding dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat status sosial dan umur, dan pada akhirnya menjadi persoalan besar yang harus ditangani semua pihak.
Provinsi Sulut pun tidak lepas dari persoalan itu, karena memang penularan HIV dan Aids sudah berada di daerah kita yang lebih disebabkan adanya hubungan seks tidak baik tanpa memperhatikan pencegahan kesehatan. Kemudian dampak lain akibat narkoba dengan menggunakan jarum suntik serta bentuk tranfusi darah.
Mencegah dan mengantisipasi penyebaran virus itu, tidak hanya dengan membuat peraturan daerah (Perda) oleh pemerintah daerah dan DPRD setempat. Melainkan adanya komitmen semua pihak untuk bersama melakukan sosialisasi dan gerakan sadar kepada populasi beresiko.
Sosialisasi gencar dilakukan hingga ke semua lapisan masyarakat, baik melalui pendidikan sekolah, perguruan tinggi, pendidikan agama, giat melakukan organisasi kemasyarakatan dan banyak melakukan aktifitas lainnya yang sangat penting.
Hal penting lainnya, agar mereka yang sudah positif sebagai orang terinfeksi HIV/Aids agar tidak dibuat stigma dan diskriminasi berlebihan, karena ini menyangkut juga psikologis seseorang yang nantinya sulit berbaur di tengah masyarakat.
Para orang yang terinfeksi HIV/Aids harus diberikan perhatian serius dan diberlakukan sebagai makhluk sosial yang sama di mata hukum dan agama. Tidak adanya stigma yang membuat kondisi mental luntur dan akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatan dan kejiwaannya.
Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Sulut, bahwa Kota Manado masih tertinggi penderita HIV/Aids di hingga tahun 2011 di daerah itu.
Dari total penderita HIV/Aids di Sulut sebanyak 787 kasus temuan, Kota Manado memiliki tingkat tertinggi sebanyak 313 penderita. Penderita HIV sebanyak 101 orang dan penderita aids sebanyak 212 orang, yang tersebar dari berbagai profesi pekerjaan dan sebagainya.
Selain Manado, Kota Bitung juga mengoleksi penderita HIV/Aids terbanyak kedua yakni 183 kasus. Yakni terdiri dari 100 penderita HIV dan 83 penderita Aids. Kemudian ada di Kabupaten Minahasa Utara sebanyak 75 penderita, terdiri dari 20 penderita HIV dan 55 penderira Aids, Minahasa Selatan sebanyak 73 kasus dengan 16 penderita HIV serta 57 penderita Aids.
"Dari 15 kabupaten dan kota yang ada, semuanya telah ditemukan langsung penderita penyakit tersebut. Dan saat ini terus dilakukan konseling bagi mereka sehingga tidak ada stigma negatif bagi mereka," jelas Pengelola Program KPA Sulut Jones Oroh.
Sementara berdasarkan profesi, ternyata latar belakang swasta/wiraswasta terbanyak dengan 202 kasus, Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 138 kasus, Pekerja Seks Komersil (PSK) sebanyak 72 kasus, pelaut 53 kasus, tidak bekerja 102 kasus dan banyak lagi pekerjaan lainnya.
Dari rincian jenis kelamin penderita itu, laki-laki sebanyak 468 kasus terdiri dari HIV sebanyak 134 dan Aids 334, kemudian perempuan 319 kasus dengan penderita HIV sebanyak 148 dan Aids 171.
Umumnya penderita penyakit berbahaya itu lebih disebabkan hubungan heteroseksual 607 kasus, napza/IDU 95 kasus, perinatal 95 kasus, hetero/IDU 20 kasus, homoseksual 14 kasus, tidak diketahui lima kasus, biseksual dua kasus serta transfusi darah satu kasus.
Upaya yang dilakukan KPA Sulut dan pemerintah daerah, banyak melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dampak dari penyakit ini, sehingga tidak membawa dampak negatif lebih besar lagi.
"Kampanyekan Kondom"
Komisi Penanggulangan AIDS menyatakan, kampanye penggunaan kondom merupakan upaya terbaik yang bisa dilakukan saat ini untuk menurunkan dan mencegah pertambahan Orang Terinfeksi HIV/AIDS (OTHA) di Indonesia.
Sekretaris KPA, Nafsiah Mboi dalam acara workshop wartawan dan populasi kunci dalam strategi penanggulangan HIV/AIDS di Jakarta, belum lama ini mengatakan, jumlah kasus AIDS hingga Maret 2011 di Indonesia adalah sebanyak 24.482 kasus, dan lebih dari 50 persen diantaranya ditularkan melalui hubungan seks heteroseksual.
Kondom merupakan solusi awal pencegahan ketika virus HIV/Aids belum ada obat yang menyembuhkan. Setiap populasi beresiko hendak melakukan hubungan seksual aman harus berani memakai kondom sebagai langkah pencegahannya.
Kondom memang masih menjadi persoalan dengan larangan-larangan dari pimpinan agama tertentu, karena sering juga dianggap haram dan sebagainya. Namun itu cara paling baik agar virus HIV/Aids tidak cepat menular.
Dia menjelaskan, jumlah kasus AIDS dengan penularan melalui hubungan heteroseksual mencapai 13 ribu kasus, melalui jarum suntik sebanyak 9.279, dan penularan dari orang tua terhadap anak sebanyak 637 kasus.
Menurut dia, terjadi perubahan pola penularan pada akumulasi kasus HIV/AIDS pada 2011 dibandingkan 2006, dari penggunaan jarum suntik menjadi hubungan seks heteroseksual.
"Pada 2006 penularan melalui jarum suntik mencapai 50,3 persen dari jumlah keseluruhan kasus pada saat itu, sedangkan pada 2010, menurun menjadi 38,4 persen," kata dia.
Sebaliknya, dia menjelaskan, terjadi perubahan signifikan pada penularan melalui hubungan seks heteroseksual, yang meningkat dari hanya 40,3 persen dari keseluruhan kasus pada 2006, menjadi 52,7 persen pada 2010.
Dia melanjutkan, penyebaran melalui hubungan seks heteroseksual itu bukan hanya terjadi di tempat pelacuran, namun juga pada kalangan rumah tangga, yang biasanya ditularkan oleh suami kepada istrinya.
Berdasarkan data KPA hingga Desember 2010, jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS dari kalangan ibu rumah tangga adalah sebanyak 2.160 orang, lebih tinggi dibandingkan wanita penjaja seks yang hanya berjumlah 457 orang.
"Satu-satunya solusi terbaik untuk mencegah penularan tersebut adalah penggunaan kondom, termasuk bagi kalangan suami yang tahu dirinya terinfeksi," kata dia.
Menurut dia, dengan mengkampanyekan penggunaan kondom secara "all out", utamanya di pusat pergaulan dan hiburan malam yang sangat berpotensi terjadinya penularan virus HIV, dapat menekan dan menurunkan jumlah orang yang beresiko terhadap kasus tersebut.
Analisa gender potensial kena HIV/AIDS KPA di Indonesia menyebutkan, sebanyak 3,1 juta laki-laki beresiko tertular, dan 1,6 juta perempuan beresiko karena menikahi mereka. (Penulis Wartawan ANTARA Biro Sulut dan Peserta Workshop Jurnalis Peduli Aids Tingkat Nasional***)
Pewarta :
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
