Cacar monyet tak perlu terlalu ditakuti
Selasa, 7 November 2023 16:18 WIB
Tangkapan layar Ketua Satgas MPox Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dr Hanny Nilasari, Sp.D.V.E., Subsp. Ven.,FINSDV, FAADV dalam acara media terkait MPox yang digelar daring, Selasa (7/11/2023). (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)
Jakarta (ANTARA) - Ketua Satuan Tugas MPox Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dr Hanny Nilasari, Sp.D.V.E., Subsp. Ven.,FINSDV, FAADV mengatakan cacar monyet tak perlu terlalu ditakuti karena manifestasinya lebih ringan dengan mortalitas lebih kecil tetapi pencegahan tetap utama.
Cacar monyet atau dikenal sebagai Mpox merupakan penyakit zoonosis disebabkan virus Monkeypox (MPXV), satu genus dengan virus Variola.
"Manifestasi klinisnya lebih ringan dan komplikasinya lebih jarang dan angka kematian lebih rendah, disebutkan beberapa literatur, angka kematian terkait Mpox generasi saat ini hanya kurang dari 0,1 persen," kata Hanny dalam acara media terkait MPox yang digelar daring, Selasa.
Hanny yang tergabung dalam Kelompok Staf Medis Dermatologi dan Venerologi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo itu mengatakan penyakit ini lebih dari 90 persen ditularkan melalui kontak erat dan terutama kontak seksual sehingga menghindari kontak fisik dengan pasien terduga Mpox merupakan suatu hal yang diutamakan.
"Tidak menggunakan barang bersama misalnya handuk atau pakaian, atau perlengkapan tidur dan sebagainya," kata dia.
Hanny mengatakan, populasi berisiko tinggi yakni mereka yang berganti-ganti pasangan atau multi-partner, melakukan kontak seksual sesama jenis (sesama lelaki) serta kondisi imunokompromais seperti autoimun dan penyakit kronis lainnya.
"Hubungan seksual harus dilakukan secara aman dengan menggunakan kondom serta melakukan vaksinasi," ujar dia.
Lebih lanjut terkait pencegahan cacar monyet, Kementerian Kesehatan sebelumnya menyarankan orang-orang untuk menghindari segala jenis kontak kulit dengan bahan apapun seperti tempat tidur yang pernah bersentuhan dengan pasien terkonfirmasi, memisahkan diri dari pasien terinfeksi, melakukan pola hidup bersih sehat termasuk rutin mencuci tangan setelah kontak dengan hewan atau orang yang terinfeksi.
Kemudian, berbicara gambaran klinis cacar monyet, Hanny merujuk data dari sebuah jurnal kedokteran Travel Medicine and Infectious Disease tahun 2022 meliputi ruam kulit sebagai menjadi masalah paling banyak ditemukan, kemudian pembesaran kelenjar betah bening, demam atau meriang, nyeri otot dan perdarahan di area rektum atau saluran cerna.
Dia menyarankan masyarakat umum mengunjungi dokter bila mengalami gejala lesi kulit yang tidak khas dan didahului demam.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: IDI: Cacar monyet tak perlu terlalu ditakuti
Cacar monyet atau dikenal sebagai Mpox merupakan penyakit zoonosis disebabkan virus Monkeypox (MPXV), satu genus dengan virus Variola.
"Manifestasi klinisnya lebih ringan dan komplikasinya lebih jarang dan angka kematian lebih rendah, disebutkan beberapa literatur, angka kematian terkait Mpox generasi saat ini hanya kurang dari 0,1 persen," kata Hanny dalam acara media terkait MPox yang digelar daring, Selasa.
Hanny yang tergabung dalam Kelompok Staf Medis Dermatologi dan Venerologi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo itu mengatakan penyakit ini lebih dari 90 persen ditularkan melalui kontak erat dan terutama kontak seksual sehingga menghindari kontak fisik dengan pasien terduga Mpox merupakan suatu hal yang diutamakan.
"Tidak menggunakan barang bersama misalnya handuk atau pakaian, atau perlengkapan tidur dan sebagainya," kata dia.
Hanny mengatakan, populasi berisiko tinggi yakni mereka yang berganti-ganti pasangan atau multi-partner, melakukan kontak seksual sesama jenis (sesama lelaki) serta kondisi imunokompromais seperti autoimun dan penyakit kronis lainnya.
"Hubungan seksual harus dilakukan secara aman dengan menggunakan kondom serta melakukan vaksinasi," ujar dia.
Lebih lanjut terkait pencegahan cacar monyet, Kementerian Kesehatan sebelumnya menyarankan orang-orang untuk menghindari segala jenis kontak kulit dengan bahan apapun seperti tempat tidur yang pernah bersentuhan dengan pasien terkonfirmasi, memisahkan diri dari pasien terinfeksi, melakukan pola hidup bersih sehat termasuk rutin mencuci tangan setelah kontak dengan hewan atau orang yang terinfeksi.
Kemudian, berbicara gambaran klinis cacar monyet, Hanny merujuk data dari sebuah jurnal kedokteran Travel Medicine and Infectious Disease tahun 2022 meliputi ruam kulit sebagai menjadi masalah paling banyak ditemukan, kemudian pembesaran kelenjar betah bening, demam atau meriang, nyeri otot dan perdarahan di area rektum atau saluran cerna.
Dia menyarankan masyarakat umum mengunjungi dokter bila mengalami gejala lesi kulit yang tidak khas dan didahului demam.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: IDI: Cacar monyet tak perlu terlalu ditakuti
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Hence Paat
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia upayakan cegah penularan virus Mpox dari wisatawan luar negeri
03 September 2024 5:57 WIB, 2024
Kelompok risiko tinggi diprioritaskan vaksinasi Mpox dari Kementerian Kesehatan
28 August 2024 12:30 WIB, 2024
Satgas PAPDI: Vaksin cacar api aman bagi orang berdaya tahan tubuh rendah
25 July 2024 6:18 WIB, 2024
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
BMKG: Tiga kabupaten di Sulut berpotensi hujan lebat disertai angin kencang
06 February 2026 22:33 WIB
Badan Geologi minta masyarakat dan wisatawan tidak dekati kawah Gunung Lokon
06 February 2026 5:52 WIB