Jawa-Sumatera minati asap cair Sulut
Rabu, 10 Desember 2014 13:50 WIB
Manado, (ANTARA Sulut) - Pembeli Jawa dan Sumatera meminati asap cair dari arang tempurung asal Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menyusul permintaan terus berdatangan daerah itu.
"Perusahaan perkebunan karet asal Jawa dan Sumatera memesan langsung asap cair dari arang tempurung tersebut," kata Ketua Wirausaha Bank Indonesia (WUBI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Ivanry Matu, di Manado, Rabu.
Ivanry mengatakan pihaknya siap memproduksi asap cair yang diminta oleh perusahaan tersebut yakni 25-30 ribu liter per bulan.
"Kami akan mulai jalan di awal tahun 2015, dengan produksi awal memenuhi permintaan perusahaan dari Jawa dan Sumatera," jelasnya.
Saat ini, katanya, dia tengah mempersuapkan dan memperbanyak unit alat asap cair, sehingga permintaan pasar mampu dipenuhi.
Tahun depan juga, katanya, sudah ada beberapa target pasar termasuk kerja sama dengan pabrik insektisida untuk pengendali hama produk pertanian.
Selain itu, katanya ke depan, pihaknya siap melakukan ekspor asap cair dari arang tempurung.
"Kami optimis siap mengekspor produk asap cair yang memiliki nilai tambah cukup tinggi," kata Ivanry.
Dia mengatakan asap cair, mempunyai pasar cukup banyak, baik domestik maupun mancanegara, sehingga membuat WUBI, mengembangkan produk tersebut.
Produk asap cair tempurung ini, katanya, telah dibuktikan mampu mengawetkan berbagai makanan seperti ikan, daging, mie dan mampu bertahan hingga 2 bulan.
Pengawetan makanan dibutuhkan oleh industri makanan, dan menjadi masalah ketika bahan baku pengawet berasal dari bahan kimia yang berbahaya bagi manusia.
Inovasi bersifat kerakyatan ini, katanya, mengajarkan proses pembuatan asap cair dari batok kelapa yang relatif sederhana dan dapat dilakukan oleh masyarakat.
Kepala Bidang Fasilitasi Pengembangan IKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut, Alwy Pontoh mengatakan akan memfasilitasi IKM dalam pembuatan bahan pengawet makanan yang disebut asap cair atau liquid smoke, dari bahan baku batok kelapa.
Saat ini, katanya, asap cair sudah mulai dikembangkan oleh Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra).
Pembuatan liquid smoke dimulai dari bahan baku batok atau tempurung yang sudah tua dimasukkan ke sebuah tungku khusus. Setelah pembakaran sekitar 8 jam dihasilkan asap cair pertama.
"Perusahaan perkebunan karet asal Jawa dan Sumatera memesan langsung asap cair dari arang tempurung tersebut," kata Ketua Wirausaha Bank Indonesia (WUBI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Ivanry Matu, di Manado, Rabu.
Ivanry mengatakan pihaknya siap memproduksi asap cair yang diminta oleh perusahaan tersebut yakni 25-30 ribu liter per bulan.
"Kami akan mulai jalan di awal tahun 2015, dengan produksi awal memenuhi permintaan perusahaan dari Jawa dan Sumatera," jelasnya.
Saat ini, katanya, dia tengah mempersuapkan dan memperbanyak unit alat asap cair, sehingga permintaan pasar mampu dipenuhi.
Tahun depan juga, katanya, sudah ada beberapa target pasar termasuk kerja sama dengan pabrik insektisida untuk pengendali hama produk pertanian.
Selain itu, katanya ke depan, pihaknya siap melakukan ekspor asap cair dari arang tempurung.
"Kami optimis siap mengekspor produk asap cair yang memiliki nilai tambah cukup tinggi," kata Ivanry.
Dia mengatakan asap cair, mempunyai pasar cukup banyak, baik domestik maupun mancanegara, sehingga membuat WUBI, mengembangkan produk tersebut.
Produk asap cair tempurung ini, katanya, telah dibuktikan mampu mengawetkan berbagai makanan seperti ikan, daging, mie dan mampu bertahan hingga 2 bulan.
Pengawetan makanan dibutuhkan oleh industri makanan, dan menjadi masalah ketika bahan baku pengawet berasal dari bahan kimia yang berbahaya bagi manusia.
Inovasi bersifat kerakyatan ini, katanya, mengajarkan proses pembuatan asap cair dari batok kelapa yang relatif sederhana dan dapat dilakukan oleh masyarakat.
Kepala Bidang Fasilitasi Pengembangan IKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut, Alwy Pontoh mengatakan akan memfasilitasi IKM dalam pembuatan bahan pengawet makanan yang disebut asap cair atau liquid smoke, dari bahan baku batok kelapa.
Saat ini, katanya, asap cair sudah mulai dikembangkan oleh Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra).
Pembuatan liquid smoke dimulai dari bahan baku batok atau tempurung yang sudah tua dimasukkan ke sebuah tungku khusus. Setelah pembakaran sekitar 8 jam dihasilkan asap cair pertama.
Pewarta : Oleh Nancy Lynda Tigauw
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pos PGA Lokon: Asap kebiruan keluar dari kawah tanda belerang terbakar
22 February 2024 21:38 WIB, 2024
Bom meledak di Polsek Astanaanyar Bandung, warga lihat asap pekat timbul
07 December 2022 15:35 WIB, 2022
PDPI:menyatakan Asap rokok jadi faktor utama terjadinya penyakit paru
24 September 2021 12:59 WIB, 2021
Karhutla di OKU Sumatera Selatan capai 25,8 hektare selama Juni-Juli 2021
14 September 2021 11:00 WIB, 2021