BPS : Petani holtikultura Sulut sejahtera
Kamis, 4 Agustus 2022 20:03 WIB
Petani tomat di Kabupaten Minahasa saat memangkas tangkai pohon tomat sehingga mempercepat pematangan buah, di Minahasa, Kamis (4/8/2022). ANTARA/Nancy L Tigauw. (1)
Manado (ANTARA) - Petani holtikultura Provinsi Sulawesi Utara(Sulut) termasuk yang paling sejahtera terlihat dari indeks nilai tukar petani holtikultura(NTPH) masih berada jauh di atas angka 100.
"NTP Hortikultura (NTPH) di bulan Juli 2022 di angka indeks 118,53, di atas angka minimal sejahtera 100," kata Kepala Badan Pusat Statistik(BPS) Sulut, Asim Saputra di Manado, Kamis.
Asim mengatakan memang dibandingkan dengan bulan Juni, apa yang terjadi di Juli tersebut mengalami penurunan mencapai 4,32 persen. Karena di Juni 2022 NTPH masih berada 123,89.
Dia mengatakan perubahan indeks yang diterima petani (It) yang tinggi dari 136,46 di bulan Juni menjadi 130,70 di bulan Juli menjadi penyebab penurunan terhadap NTPH.
Indeks pembentuk It, katanya, dominan turun dan penurunan tertinggi dialami oleh sayur-sayuran yang mencapai 4,74 persen.
Komoditas sayur-sayuran yang mengalami penurunan harga yaitu tomat, cabai rawit, kembang kol, kol/kubis, seledri, kacang merah, petsai/sawi putih, dan labu siam.
Untuk Indeks buah-buahan turun 1,18 persen, dan tanaman buah-buahan yang mengalami penurunan yakni salak, dan duku.
Sebaliknya, kata Asim, indeks yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan 0,11 persen. Adapun penyebab rendahnya kenaikan Ib berasal dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga yang naik sebesar 0,17 persen.
Searah dengan NTPH, NTUP juga turun sebesar 4,17 persen, dari 125,30 pada bulan Juni menjadi 125,08 di bulan Juli.
"NTP Hortikultura (NTPH) di bulan Juli 2022 di angka indeks 118,53, di atas angka minimal sejahtera 100," kata Kepala Badan Pusat Statistik(BPS) Sulut, Asim Saputra di Manado, Kamis.
Asim mengatakan memang dibandingkan dengan bulan Juni, apa yang terjadi di Juli tersebut mengalami penurunan mencapai 4,32 persen. Karena di Juni 2022 NTPH masih berada 123,89.
Dia mengatakan perubahan indeks yang diterima petani (It) yang tinggi dari 136,46 di bulan Juni menjadi 130,70 di bulan Juli menjadi penyebab penurunan terhadap NTPH.
Indeks pembentuk It, katanya, dominan turun dan penurunan tertinggi dialami oleh sayur-sayuran yang mencapai 4,74 persen.
Komoditas sayur-sayuran yang mengalami penurunan harga yaitu tomat, cabai rawit, kembang kol, kol/kubis, seledri, kacang merah, petsai/sawi putih, dan labu siam.
Untuk Indeks buah-buahan turun 1,18 persen, dan tanaman buah-buahan yang mengalami penurunan yakni salak, dan duku.
Sebaliknya, kata Asim, indeks yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan 0,11 persen. Adapun penyebab rendahnya kenaikan Ib berasal dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga yang naik sebesar 0,17 persen.
Searah dengan NTPH, NTUP juga turun sebesar 4,17 persen, dari 125,30 pada bulan Juni menjadi 125,08 di bulan Juli.
Pewarta : Nancy Lynda Tigauw
Editor : Guido Merung
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Agenda mediasi di PN Manado, Pdt Ricky Tafuama tetap minta Rp5,2 M dikembalikan
30 January 2026 6:07 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
BI harapkan Pemkab Sangihe optimalkan penerimaan daerah melalui kanal digital
02 February 2026 10:03 WIB
Anggota DPR nilai perampingan BUMN ciptakan efisiensi Rp50 triliun tanpa PHK
02 February 2026 6:03 WIB
Airlangga: Pesan Presiden agar SRO jaga operasional bursa di tengah transisi
01 February 2026 7:48 WIB