Uji coba kedua gagal, terapi kanker Roche mulai diragukan
Rabu, 11 Mei 2022 14:26 WIB
Arsip - Logo produsen obat Roche terlihat di kantor pusatnya di Basel, Swiss, 1 Februari 2018. (ANTARA/Reuters/Arnd Wiegmann/as)
Frankfurt (ANTARA) - Terapi baru pengobatan kanker yang digagas oleh Roche menghadapi keraguan pada Rabu ketika uji coba kedua menunjukkan obat tiragolumab yang dikembangkannya gagal memperlambat pertumbuhan kanker paru.
Dalam penelitian, kombinasi tiragolumab dan Tecentriq buatannya tidak mengurangi tingkat pertumbuhan penyakit dalam kasus kanker paru non-small-cell stadium lanjut jika dibandingkan dengan kelompok pasien pembanding yang hanya menerima Tecentriq.
Hasil penelitian itu dipublikasikan setelah perusahaan farmasi Swiss itu mengatakan pada Maret bahwa tiragolumab gagal memperlambat kanker paru yang jenisnya berbeda dan lebih agresif.
Kemunduran itu kemungkinan akan memberi jeda bagi para pesaing Roche yang mengembangkan senyawa serupa dalam kelompok obat yang dikenal sebagai anti-TIGIT.
Baca juga: Ayo kenali perbedaan Wasir dan Kanker Usus Besar
Merck & Co dianggap sebagai pesaing terdekat Roche dalam perlombaan itu.
Gilead Sciences pada November lalu berkolaborasi dengan Arcus Biosciences dalam pengembangan obat anti-TIGIT domvanalimab.
GlaxoSmithKline pada Juni 2021 mencapai kesepakatan lisensi bernilai 2 miliar dolar (Rp29,09 triliun) dengan iTeos Therapeutics Inc untuk pengembangan kandidat obat anti-TIGIT.
Bristol-Myers Squibb dan Agenus Inc menjalin kerja sama pada Mei 2021 untuk membuat obat serupa.
Coherus BioSciences pada Januari menyepakati opsi untuk melisensi kandidat obat dari Shanghai Junshi Biosciences untuk pasar AS dan Kanada.
Sumber: Reuters
Baca juga: Vaksinasi kanker serviks berskala nasional digelar mulai 2023
Dalam penelitian, kombinasi tiragolumab dan Tecentriq buatannya tidak mengurangi tingkat pertumbuhan penyakit dalam kasus kanker paru non-small-cell stadium lanjut jika dibandingkan dengan kelompok pasien pembanding yang hanya menerima Tecentriq.
Hasil penelitian itu dipublikasikan setelah perusahaan farmasi Swiss itu mengatakan pada Maret bahwa tiragolumab gagal memperlambat kanker paru yang jenisnya berbeda dan lebih agresif.
Kemunduran itu kemungkinan akan memberi jeda bagi para pesaing Roche yang mengembangkan senyawa serupa dalam kelompok obat yang dikenal sebagai anti-TIGIT.
Baca juga: Ayo kenali perbedaan Wasir dan Kanker Usus Besar
Merck & Co dianggap sebagai pesaing terdekat Roche dalam perlombaan itu.
Gilead Sciences pada November lalu berkolaborasi dengan Arcus Biosciences dalam pengembangan obat anti-TIGIT domvanalimab.
GlaxoSmithKline pada Juni 2021 mencapai kesepakatan lisensi bernilai 2 miliar dolar (Rp29,09 triliun) dengan iTeos Therapeutics Inc untuk pengembangan kandidat obat anti-TIGIT.
Bristol-Myers Squibb dan Agenus Inc menjalin kerja sama pada Mei 2021 untuk membuat obat serupa.
Coherus BioSciences pada Januari menyepakati opsi untuk melisensi kandidat obat dari Shanghai Junshi Biosciences untuk pasar AS dan Kanada.
Sumber: Reuters
Baca juga: Vaksinasi kanker serviks berskala nasional digelar mulai 2023
Pewarta : Anton Santoso
Editor : Guido Merung
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ahli dari Hospital Singapore jelaskan keuntungan transplantasi hati dari donor hidup
22 January 2026 20:53 WIB
Alat deteksi dini kanker kulit berbasis AI berhasil dikembangkan mahasiswa
09 November 2025 7:14 WIB
Terpopuler - Artikel
Lihat Juga
Ekonomi di Antara Riuh Pasar, Membaca Pertumbuhan Sulawesi Utara 5,39 persen
16 December 2025 21:08 WIB