Logo Header Antaranews Manado

China pengimpor terbesar Sulut

Rabu, 14 November 2018 09:11 WIB
Image Print
Kepala BPS Sulut ateng Hartono (1) (1/)
September tahun ini impor mesin-mesin/pesawat mekanik memberikan kontribusi sebesar 25 persen, meskipun ini baru angka sementara

Manado, (Antaranews Sulut) - China tercatat sebagai pengimpor terbesar bagi Provins Sulawesi Utara(Sulut) pada September 2018 dengan nilai impor sebesar 43,93 persen dari total impor bulanan.

"Nilai impor China pada September sebesar 16,499 juta dolar Amerika Serikat," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Dr Ateng Hartono di Manado, Selasa.

Impor ke China tersebut mengalami kenaikan signifikan dibandingkan Agustus 2018 yang ketika itu hanya tercatat sebesar 2,17 juta dolar AS.

Singapura menjadi negara pemasok impor terbesar ke dua dengan nilai 7,10 juta dolar AS.

Secara berurutan 10 negara pengimpor Sulut yakni China, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Australia, India, Jepang, Taiwan, serta Ukraina.

Menurut dia, sama seperti bulan sebelumnya, dominasi komoditas impor dari Negari Tirai Bambu tersebut yakni mesin-mesin/pesawat.

Dari nilai impor mesin-mesin/pesawat mekanik pada September 2018 mencapai 9,31 juta dolar AS, atau sedikit mengalami kenaikan dari Agustus 2018 yang menyentuh 52,22 juta dolar AS.

"September tahun ini impor mesin-mesin/pesawat mekanik memberikan kontribusi sebesar 25 persen, meskipun ini baru angka sementara", paparnya.

Dilihat kategori golongan maka bahan bakar mineral menjadi kontributor terbesar nilai impor Sulawesi Utara pada bulan tersebut menggeser posisi mesin-mesin/pesawat mekanik yang menjadi top position pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, 10 besar produk impor yang masuk Sulut diantaranya, bahan bakar mineral, mesin-mesin/pesawat mekanik, mesin/peralatan listrik, bahan peledak, benda dari besi dan baja, lemak dan minyak hewan, besi dan baja, bahan kimia anorganik, serta produk keramik.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulut Marthedy M Tenggehi ?mengatakan, seperti halnya impor, posisi teratas negara tujuan ekspor nonmigas Sulut pada September 2018 adalah China, yakni senilai USD11,86 juta atau 15,34 persen dari total nilai ekspor nonmigas.

Produk yang paling banyak diekspor ke negara tersebut adalah lemak dan minyak hewani/nabati Dibandingkan dengan Juli 2018 (m-to-m), nilai ekspor ke negara tersebut mengalami peningkatan yang sangat signifikan, bahkan mampu menggeser negara Belanda yang pada bulan sebelumnya menduduki negara tujuan ekspor tertinggi, ujarnya.

Dilihat dari golongan barang kontributor tertinggi ekspor Sulut pada September 2018 masih diduduki oleh komoditi lemak dan minyak hewani/nabati, meskipun pada bulan September terjadi penurunan share menjadi 51,29 persen, dibandingkan dengan pada bulan yang lalu yang hampir mencapai 55 persen.

Golongan barang tersebut diekspor ke tujuh negara tujuan, yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Belanda, Singapura dan Amerika Serikat.

Nilai ekspor dari golongan barang ini mengalami penurunan nilai FOB sebesar 3,02 persen dari bulan sebelumnya (m-to-m).

(T.KR-JRL/B/G004/C/G004) 13-11-2018 19:48:39



Pewarta :
Editor: Christian Alberto Kowaas
COPYRIGHT © ANTARA 2026