Manado (ANTARA) - Angin laut berhembus kencang ketika Raja Alfredo Siregar, seorang pejabat muda Bank Indonesia, berdiri di geladak kapal TNI AL yang siap berlayar menuju perbatasan Sulawesi Utara.
Wajahnya terlihat tenang, tetapi di dalam hati, ada rasa gugup yang sulit ia sembunyikan. Inilah misi perdananya memimpin Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) di Sulut.
Sebuah tugas mulia yang tidak hanya tentang mengantarkan uang, tetapi juga menjaga kedaulatan negeri di garis depan perbatasan.
Raja tidak sendiri. Ia memimpin tim berjumlah 12 orang, gabungan dari perwakilan Sulawesi Utara dan daerah lainnya. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, namun punya satu tujuan sama yakni memastikan ketersediaan uang rupiah layak edar di wilayah terdepan, terluar, tertinggal (3T), terutama di pulau-pulau kecil yang berbatasan langsung dengan Filipina.
Angin laut berembus kencang, mengguncang tiang-tiang bendera yang berkibar di sepanjang area pelepasan.
Namun, tak ada yang surut semangat ketika Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2025 berdiri tegap bersama prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).
Di hadapan mereka, berdiri gagah sebuah kapal perang andalan, KRI Sampari-628, yang akan membawa misi mulia menembus lautan luas.
Kapal cepat rudal ini dikenal sebagai salah satu ujung tombak pertahanan laut Indonesia, dirancang bukan hanya untuk menjaga kedaulatan perairan, tetapi kali ini juga untuk menjalankan misi mulia, mengawal Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2025.
Dengan lambung baja yang perkasa dan mesin bertenaga tinggi, KRI Sampari siap membelah gelombang Sulawesi Utara, membawa tim melintasi perjalanan panjang menempuh rute Bitung-Karakitang-Nusa-Marore-Karatung-Kabaruan. Total jarak yang akan ditempuh tidak main-main, mencapai 770 mil laut.
Dengan kapal ini, tim akan berlayar menuju lima pulau di Kepulauan Sangihe dan Talaud pada 19–25 Agustus 2025, memastikan rupiah hadir layak edar di wilayah terluar tersebut.
Ketika prosesi pelepasan selesai, suara mesin KRI Sampari meraung, membelah riuhnya angin dan hujan. Tim ekspedisi menaiki kapal dengan langkah mantap, meski di hati terselip rasa gugup. Laut bukanlah perjalanan mudah, terlebih dengan cuaca yang hampir tak bersahabat.
Suasana hening ketika kapal mulai menjauh dari dermaga. Beberapa anggota tim saling bertukar pandang; rasa bangga bercampur tegang menyelimuti mereka. “Ini pertama kalinya kita ke perbatasan Filipina,” ujar Alfredo lirih, mencoba menenangkan dirinya sekaligus memberi semangat pada timnya. “Tugas ini bukan sekadar distribusi uang, tapi tentang menjaga simbol kedaulatan negara kita,”
katanya.
Bagi tim ERB, melihat KRI Sampari dari dekat menghadirkan rasa kagum sekaligus rasa aman. Mereka tahu, perjalanan ini penuh risiko, ombak tinggi, angin kencang, hingga jalur laut yang langsung berbatasan dengan Filipina.
Namun bersama KRI Sampari, kepercayaan diri mereka semakin kuat.
Di dalam kapal, para prajurit TNI AL bersiaga, mengatur strategi pelayaran dengan disiplin tinggi.
Sementara itu, anggota tim BI Sulut menyiapkan logistik dan perlengkapan rupiah yang akan didistribusikan di setiap pulau tujuan.
Ada rasa gugup, tentu saja, tapi lebih besar lagi rasa tanggung jawab untuk menghadirkan rupiah layak edar di wilayah 3T, di mana uang bukan hanya alat transaksi, tetapi juga simbol kedaulatan negara.
Gelombang mungkin bergelora, angin bisa saja berubah arah, tetapi KRI Sampari-628 melaju mantap, membawa semangat merah putih di setiap mil laut yang ditempuh.
Perjalanan panjang melalui laut biru membawa tim menuju pulau-pulau terpencil. Di tiap persinggahan, masyarakat menyambut mereka dengan hangat.
Setelah berlayar semalam di bawah cuaca yang tak menentu, KRI Sampari-628 akhirnya perlahan merapat di dermaga kecil Pulau Kahakitang, Kecamatan Kepulauan Tatoareng, salah satu pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Langit masih kelabu, ombak bergulung besar seakan belum rela memberi jeda, sementara angin membawa dingin khas perairan Sulawesi menjelang akhir tahun.
Di ruang geladak, wajah-wajah anggota Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2025 terlihat letih. Namun begitu, ketika daratan pulau mulai terlihat jelas, rasa letih berubah menjadi haru. Ada bisikan syukur di antara mereka, “Kita tiba dengan selamat,” ujar Raja.
Perjalanan memang penuh was-was. Gelombang tinggi sempat membuat kapal oleng berkali-kali, dan tak jarang beberapa anggota tim saling berpegangan agar tidak kehilangan keseimbangan.
Tapi semangat menghadirkan rupiah layak edar di perbatasan terus menjadi penguat, membuat mereka tegar melewati malam-malam penuh tantangan di tengah laut.
Saat kaki pertama kali menjejak tanah Karakitang, sambutan hangat warga membuat segala rasa cemas terbayar. Anak-anak berlarian mendekat, penasaran melihat rombongan besar dengan seragam lengkap.
Para orang tua menyambut dengan senyum dan ucapan syukur, sebab bagi mereka, kedatangan tim ini bukan sekadar membawa uang baru, tapi juga menghadirkan simbol kehadiran negara di perbatasan.
Di balik rasa gugup yang sempat menghantui, Alfredo mulai merasakan kebanggaan luar biasa. Ia sadar, misi ini adalah panggilan sejarah, sebuah cara nyata menjaga NKRI lewat rupiah yang berdaulat.
“Rupiah bukan sekadar uang. Ia adalah identitas bangsa, dan hari ini, kita membawanya hingga ke batas negeri,” ucap Alfredo mantap.
“Semangat kita tidak boleh surut, sama seperti laut yang tak pernah berhenti berombak,” ucap Raja Alfredo Siregar, sang ketua tim, sambil menatap masyarakat yang sudah berkumpul di balai desa.
Kalimat itu menguatkan semua, baik tim maupun warga, bahwa rupiah bukan sekadar alat transaksi, melainkan pengikat persatuan dan kedaulatan bangsa.
Walau perjalanan baru saja dimulai, Karakitang menjadi saksi betapa setiap tetes keringat dan rasa was-was di tengah lautan, semuanya terbayar dengan senyum dan rasa percaya masyarakat di pulau terdepan Nusantara.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menegaskan bahwa Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2025 bukanlah sekadar perjalanan distribusi uang, melainkan sebuah misi kebangsaan.
Sebanyak 12 personel BI akan bergabung bersama kru KRI Sampari-628, kapal cepat rudal kebanggaan TNI AL, untuk menempuh lautan luas menuju lima pulau di Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tanggal 19–25 Agustus 2025.
Mereka tidak hanya membawa uang, tetapi juga membawa tekad menjaga kehadiran negara di perbatasan.
Dalam ekspedisi ini, ada tiga misi utama yang diemban yakni memastikan ketersediaan uang layak edar di wilayah 3T perbatasan, menarik uang lusuh agar kualitas uang yang beredar tetap terjaga dan memberikan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada masyarakat.
“Rupiah bukan hanya alat bayar, tetapi juga identitas, pemersatu, dan simbol kedaulatan negara. Selama Rupiah hadir di setiap pulau, kedaulatan bangsa ini akan tetap tegak berdiri,” tegas Joko.
Wakil Komandan Kodaeral VIII TNI AL, Kolonel Marinir Ali Sumbogo dengan suaranya yang tegas namun hangat, menggema di tengah barisan prajurit TNI AL dan anggota Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2025.
Ia menegaskan, sinergi antara Bank Indonesia (BI) dan TNI Angkatan Laut (TNI AL) bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan tindak lanjut nyata dari Nota Kesepahaman yang telah disepakati.
“Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah, sementara TNI AL menjaga kedaulatan laut. Kedua tugas ini bertemu dalam satu kepentingan, memastikan rupiah hadir dan berdaulat di seluruh pelosok negeri,” ucapnya dengan mantap.
Asisten I Pemerintah Kota Bitung, Forsman Dandel, menekankan betapa pentingnya Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2025, terlebih bagi Sulawesi Utara yang memiliki posisi geografis strategis karena berbatasan langsung dengan negara lain.
Kehadiran rupiah di wilayah perbatasan bukan sekadar memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat, tetapi juga menjadi simbol nyata kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan NKRI,” ucap Forsman
Ia juga memberikan apresiasi tinggi atas sinergi Bank Indonesia, TNI Angkatan Laut, dan pemerintah daerah, yang bersama-sama menggerakkan misi ini.
“Saya percaya kegiatan ini akan membawa manfaat, baik secara ekonomi maupun sosial, sekaligus memperkuat rasa nasionalisme dan ketahanan ekonomi masyarakat di perbatasan,” tambahnya penuh keyakinan.
Harapan itu menjadi doa bersama. Seluruh pihak berharap pelaksanaan ERB 2025 dapat berjalan aman, lancar, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Lebih dari itu, ekspedisi ini menjadi wujud sinergi yang kokoh antara Bank Indonesia, TNI AL, pemerintah daerah, dan perbankan, sebuah fondasi kuat untuk menjaga rupiah, menjaga kedaulatan, dan menjaga persatuan bangsa Indonesia.

