Manado (ANTARA) - Tiga desa di Sulawesi Utara (Sulut) menjadi percontohan Program Intervensi Biosekuriti Komunitas untuk Demam Babi Afrika atau Community African Swine Fever Biosecurity Intervention (CABI).
"Tiga desa tersebut yaitu Desa pinabetengan (Kabupaten Minahasa), Desa Tiwoho (Kabupaten Minahasa Utara), dan Desa Paslaten Satu (Kabupaten Minahasa Selatan)," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Hana Tioho di Manado, Senin
Dia mengatakan di tiga desa percontohan ada sebanyak 81 penerima manfaat peternak babi skala kecil yang mengikuti Program CABI tersebut.
Ada sejumlah dampak nyata yang dirasakan peternak yang mengikuti program CABI tersebut, kata dia, yaitu peternak semakin sadar dan memahami ancaman ASF serta pentingnya biosekuriti sebagai langkah utama pencegahan.
Selanjutnya peternak mampu menerapkan praktik biosekuriti yang efektif dan terjangkau di kandangnya, termasuk pemberian pakan yang aman, manajemen limbah yang benar, dan pengelolaan bahan berisiko.
Selain itu peternak terlatih dalam mendeteksi gejala awal ASF dan dapat melaporkan kasus secara cepat kepada otoritas terkait, mempercepat respons pengendalian.
Hal lainnya, kata dia, penerapan biosekuriti meningkatkan keuntungan ekonomi peternak melalui penurunan angka kematian ternak, kenaikan nilai jual yang melebihi harga pasar, serta tumbuhnya kepercayaan pembeli.
Hana menjelaskan CABI adalah program kolaboratif antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), FAO Indonesia melalui ECTAD, dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut dengan dukungan Kementerian , Pertanian, Pangan, dan Pedesaan Republik Korea.
Program tersebut untuk mendorong praktik biosekuriti di peternakan babi skala mikro-kecil melalui pendekatan partisipatif, berbasis komunitas, dan terjangkau, untuk mencegah penyebaran Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF).

