Logo Header Antaranews Manado

ALFI Sulut pertanyakan kinerja bongkar muat peti kemas sejumlah pelabuhan

Selasa, 11 Maret 2025 13:06 WIB
Image Print
Suasana terminal peti kemas Bitung (antara/Ist) (1)
berpengaruh besar, pada kelancaran pengiriman barang pada konsumen kami,

Manado (ANTARA) - Asosiasi logistik dan forwarder Indonesia atau Indonesian logistics and formarders association (ALFI/ILFA) perwakilan Sulawesi Utara (Sulut), pertanyakan turunnya layanan atau kinerja bongkar muat peti kemas sejumlah pelabuhan utama di Indonesia.

"Penurunan kinerja tersebut berpengaruh besar pada kelancaran pengiriman barang pada konsumen kami, karena makin terhambat," Kata Ketua ALFI/ILFA Perwakilan Sulut, Ramlan Ifran, di Manado, Selasa.

Ramlan Ifran mengatakan, saat ini kondisi alat dan SDM di empat pelabuhan peti kemas cukup sibuk Indonesia, yakni Bitung, Semarang, Makassar dan Banjarmasin, sudah tua dan seringkali rusak. Bukan hanya itu, crane juga belum sesuai dengan kebutuhan, sehingga kapasitas bongkar muat rendah, sehingga menyebabkan barang menjadi lebih lama sampai ke konsumen.

Hal tersebut, katanya, berdampak pada harga barang, karena akan naik disebabkan biaya operasional yang membengkak ataupun karena kebutuhan mendesak yang membutuhkan pengiriman lebih cepat.

Mengatasi ini dia menyarankan penambahan alat bongkar muat yang lebih modern serta pemeliharaan yang baik terhadap alat yang ada, juga peningkatan kualitas SDM, juga sangat diperlukan agar proses bongkar muat dapat berjalan lebih efisien.

Dia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera merespons kondisi ini dengan langkah-langkah konkret, agar kinerja bongkar muat dapat meningkat dan proses distribusi barang ke seluruh konsumen bisa berjalan lancar.

Ramlan mengatakan, lembaga kajian di industri pelayaran nasional, Namarin Institute, juga mengeluarkan pernyataan menjelang lebaran yang merupakan masa peak season, kondisi ini menimbulkan shortage container yang akan merugikan banyak pihak.

“Direktur Namarin Institue, Siswanto Rudi, juga memberikan pernyataan serupa seperti yang kami sampaikan, karena menerima banyak informasi atau data adanya keluhan dari beberapa perusahaan pelayaran dan dari forwader di daerah kepada pengelola terminal peti kemas Pelindo dan sepertinya belum mendapatkan respon yang cukup," katanya.

Mengutip pernyataan Siswanto Rudi, Ramlan mengatakan, port Stay tetap panjang dan para pengguna jasa baik perusahaan pelayaran, forwading dan pedagang di daerah harus menanggung potensi biaya operasional yang membengkak.

Menurut Ramlan, Direktur Namarin Institut itu menegaskan, keluhan terbanyak saat ini berkaitan dengan layanan yang lambat dan kapal mesti antri lebih lama walaupun sudah sampai di pelabuhan, apalagi kapal butuh layanan cepat untuk mendukung kegiatan logistik selama Ramadan dan lebaran yang selalu meningkat tajam.

"Layanan di terminal peti kemas Pelindo, tidak sesuai dengan investasi besar yang telah dilakukan untuk membenahi dan menaikkan kapasitas serta kualitas layanan bongkar muat peti kemas. Pelindo harus berani melakukan evaluasi dan mengaudit kinerja setiap pelabuhan, khususnya kepada vendor-vendor terminal peti kemas yang memang tidak layak,” katanya.



Pewarta :
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026