
Rupiah Jumat pagi menguat menjadi Rp14.300
Jumat, 11 September 2015 11:12 WIB

"Proyeksi itu memicu pelemahan pada mata uang dolar AS terhadap sebagian mata uang dunia, termasuk rupiah," kata Lukman Leong.
Jakarta, 11/9 (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi bergerak menguat sebesar lima poin menjadi Rp14.300 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp14.305 per dolar AS.
Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa kemungkinan Bank Sentral AS atau the Fed akan menunda kembali untuk menaikkan suku bunganya pada pertemuannya 16-17 September 2015 pekan depan, mendorong investor melepas sebagian mata uang dolar AS di pasar.
"Proyeksi itu memicu pelemahan pada mata uang dolar AS terhadap sebagian mata uang dunia, termasuk rupiah," kata Lukman Leong.
Menurut dia, the Fed yang akan kembali menunda untuk menaikkan suku bunga itu akibat melambatnya ekonomi Tiongkok. Data PPI (producer price index) Tiongkok yang turun diiringi degan penjualan mobil menambah prospek negatif bagi ekonomi Tiongkok.
Di sisi lain, lanjut Lukman, ekonomi Jepang juga terlihat masih melambat menyusul pengeluaran modal diluar dugaan turun dalam dua bulan berturut-turut, menandakan aktivitas ekonomi yang minim.
Sementara itu, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa sebagian pelaku pasar uang mulai merespon positif kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Namun, masih terbatasnya penguatan rupiah menandakan pelaku pasar uang masih menunggu realisasi kebijakan pemerintah itu.
Pada Rabu (9/9), Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan diantaranya memperkuat pengendalian inflasi dan mendorong sektor rill dari sisi suplai perekonomian, memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah, serta memperkuat pengelolaan supply dan demand valas.
"Paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan itu cukup bagus, diharapkan dapat segera diimplentasi sehingga tidak hanya menjadi kebijakan yang sifatnya normatif," kata Reza Priyambada.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
