Logo Header Antaranews Manado

13 Negara Bahas Transnasionalisme

Senin, 17 Oktober 2011 21:30 WIB
Image Print
Ilustrasi - SIDANG SOCA. Sejumlah delegasi ASEAN bergandeng tangan pada pembukaan sidang pertemuan Senior Officials Committee for ASCC (SOCA) atau Komite Pejabat Senior untuk Komunitas Sosial Budaya ASEAN (FOTO ANTARA/R. Rekotomo/ss/mes/11). (1)
"Transnasional merupakan isu strategis untuk pemerintah dan sumber penelitian bagi peneliti-peneliti sosial," ujar Presiden AASSREC yang juga deputi Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI, Dr Aswatini, dalam keterangan pers usai pembukaan the

Manado, (Antara News) - Forum dua tahunan, the 19th Biennial General Conference Assosiation of Asian Social Science Research Councils (AASSREC) yang beranggotakan 15 negara mulai membahas masalah transnasionalisme di Manado, Senin.

"Transnasional merupakan isu strategis untuk pemerintah dan sumber penelitian bagi peneliti-peneliti sosial," ujar Presiden AASSREC yang juga deputi Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI, Dr Aswatini, dalam keterangan pers usai pembukaan the 19th Biennial General Conference Assosiation of Asian Social Science Councils (AASSREC), di Manado.

Dia mengatakan, konsep transnasionalisme mencakup beragam tema menarik untuk didiskusikan diantaranya, migrasi transnasional, perdagangan manusia, diaspora, perkawinan campur, kejahatan transnasional, dan terorisme.

Selain itu, beberapa masalah lainnya yang diangkat adalah penyelundupan narkoba dan senjata, tenaga kerja, pendidikan, pertukaran keterampilan dan pengetahuan serta pengungsi.

"Konferensi ini dimaksukan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang transnasionalisme dan memertimbangkan bagaimana ilmu-ilmu sosial dapat memberikan kontribusi untuk etika, perubahan moral yang efektif dalam memahami pola transnasionalisme di kawasan Asia Pasifik," kata Aswatini.

Dia menjelaskan, konferensi ini diselenggarakan di negara yang menjadi presiden AASSREC dan Indonesia diwakili LIPI.

Presiden AASSREC Indonesia, menurut dia, sebelumnya dijabat Prof Dr Dewi Fortuna Anwar di periode tahun 2009-2010.

"Topik-topik yang akan dibahas dalam konferensi dua tahunan ini sangat bergantung pembicaraan board meeting tentang isu apa yang relevan dengan kondisi di Asia. Dan transnasionalisme menjadi topik yang akan dibahas dalam konferensi ini," jelasnya.

Dia mengatakan konferensi AASSREC selanjutnya akan digelar di negara Filipina.

Sementara itu ditambahkan Gubernur Sulawesi Utara Sinyo, H sarundajang yang juga Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), AIPI merupakan organisai profesi yang mengkaji masalah politik, ekonomi, masalah sosial dan kehidupan masyarakat pada umumnya.

"Organisasi ini adalah organisasi 'ekspert' di bidang politik dan lebih banyak anggotanya dari LIPI dan sudah tersebar di Indonesia umumnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dan hukum," kata Sarundajang.
Dia mengatakan, banyak kepentingan yang bisa didapatkan ketika AASSREC digelar di Manado.

Selain membahas persoalan transnasionalisme, momen ini akan menjadi ajang promosi Provinsi Sulawesi Utara bahwa daerah ini aman dan sedang bergeliat perkembangan ekonominya.

"Mudah-mudahan catatan-catatan yang lahir dari konferensi ini ada manfaatnya di Asia serta kepentingan bangsa Indonesia," harapnya.

Konferensi yang berlangsung 16-19 Oktober 2011 ini dihadiri sekitar 150 perserta termasuk perwakilan dari asosiasi anggta AASSREC di Australia, Bangladesh, Cina, Indonesia, Iran, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Korea Utara, Filipina, Korea Selatan, Thailand dan Vietnam kecuali peserta dari India dan Srilanka.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026