Jakarta (ANTARA) - Ekonom Universitas Indonesia (UI) sekaligus Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan potensi pengalihan perdagangan (trade diversion) Amerika Serikat ke Indonesia dapat mencapai 7,11 miliar dolar AS.
Ia menyatakan, fenomena tersebut dapat terjadi karena tarif resiprokal yang diterapkan terhadap produk impor asal Indonesia lebih rendah dibandingkan negara-negara kompetitor, sehingga importir AS lebih memilih untuk mengimpor produk-produk asal Indonesia.
“Secara ekonomi kita diuntungkan, karena memang negara-negara tersebut memiliki tarif yang jauh lebih tinggi, seperti misalnya Brazil dan juga China, itu ada potensi trade diversion. Jadi, dalam konteks ekonomi kita untung," ujar Fithra Faisal Hastiadi di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, besarnya potensi trade diversion tersebut didukung oleh tarif 0 persen bagi 1.819 produk asal Indonesia serta terbukanya berbagai peluang investasi pada sektor manufaktur strategis berkat ditandatanganinya kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS beberapa waktu lalu.
“Ini bukan hitungan pemerintah, ini hitungan saya, disclaimer, jadi untuk manufacturing (sektor manufaktur) itu (Indonesia) bisa mendapatkan keuntungan (dari trade diversion) sekitar 3,38 miliar dolar AS,” jelasnya.
Sementara nilai pengalihan perdagangan yang bisa didapatkan Indonesia pada sektor tekstil senilai 2,22 miliar dolar AS dan pada sektor agrikultur sebesar 1 miliar dolar AS.
Selain itu, Fithra menyampaikan bahwa perjanjian dagang tersebut juga berpotensi menciptakan sejumlah pengakuan standard timbal balik (mutual recognition) antara kedua pihak, salah satunya standarisasi jaminan kesehatan maupun sertifikasi halal.
Ia menuturkan, standardisasi tingkat tinggi yang diterapkan oleh Food and Drug Administration (FDA) AS dapat meningkatkan pengawasan keamanan makanan dan obat di Indonesia.
Dengan begitu, ia menilai produk impor dari AS yang sudah tersertifikasi oleh FDA tidak perlu lagi mengurus ulang perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Begitupula produk AS yang sudah memiliki sertifikasi halal, misalnya dari ISWA Halal Certification Department USA Halal Chamber of Commerce.
Fithra mengatakan, posisi strategis Indonesia yang tetap konsisten menjaga politik luar negeri yang netral memberikan keuntungan di panggung perekonomian global.
Ia menyampaikan, keikutsertaan Indonesia dalam BRICS, yang banyak diisi oleh negara-negara dengan beban tarif perdagangan sangat tinggi ke AS, justru menciptakan peluang yang besar.
Arus trade diversion yang tercipta dari fenomena geopolitik tersebut membuat Amerika Serikat saat ini menjadikan Indonesia sebagai basis rantai pasok alternatif utama.
Ia mengatakan, manfaat nyata dari kerja sama bilateral tersebut mulai dirasakan langsung melalui derasnya aliran komitmen investasi AS pada pengembangan teknologi semikonduktor serta pengolahan mineral logam tanah jarang (rare earth).
"Ketika AS dalam hal ini datang berinvestasi semikonduktor, jadi artinya dalam hal ini kita juga bisa membangun ekosistem itu. Jadi ketika kita ekspor di situ (ekosistem semikonduktor) juga untuk kepentingan kita juga," imbuh Fithra Faisal Hastiadi.