Tolak merger SD, warga Bunaken temui Wakil Ketua DPRD Manado
Kamis, 23 Juni 2022 7:05 WIB
Warga menemui Adrey Laikun di ruangan kerjanya, menyampaikan penolakan merger sekolah (jo/Antara) (1)
Manado (ANTARA) - Sejumlah warga Bunaken, mendatangi sekretariat DPRD Manado, menemui wakil ketua DPRD, Adrey Laikun, ST, menyampaikan sikap mereka menolak merger dua sekolah dasar, di kelurahan tersebut.
Hal itu diakui Laikun, di ruang kerjanya, setelah menerima perwakilan warga dari Pulau Bunaken, antara lain, Frangky Tawaris, Ferdinan Panontongan, Gunawan Pontoh dan Zulkifli Burahama.
"Mereka menyampaikan langsung menolak merger dua sekolah tersebut, karena melihat kondisi SD Inpres yang masih baik, dan siswa di sekolah itu masih banyak sekitar 80-90 orang siswa," kata Laikun, menirukan ucapan warga yang datang itu.
Dia mengatakan, berdasarkan penjelasan mereka sebelumnya, dinas pendidikan hendak menyatukan SD Inpres dan SD Negeri Bunaken, karena SD Inpres posisinya dekat dengan pembangkit listrik di Pulau tersebut, dan sering banjir kalau hujan. Warga foto bersama usai menyampaikan penolakan merger sekolah (jo/Antara) (1)
Tetapi Laikun mengatakan, alasan itu terlalu mengada-ada, karena sejak dulu sudah seperti itu kondisinya dan kalaupun hujan hanya sebenar air sudah surut, karena itu mereka menolak.
"Lagipula saya sering berkunjung dan melihat kondisi SD Inpres masih sangat baik, baik fisik bangunan maupun lainnya seperti fasilitas dan jumlah siswa," katanya.
Lagipula yang membuat warga menolak, karena sepertinya KBM akan dipindahkan ke SD Negeri, padahal posisinya tidak jauh dari SD Inpres.
Dia mengatakan, sudah menyurati ketua DPRD minta digelar hearing dengan dinas pendidikan mengenai rencana merger sekolah tersebut.
Hal itu diakui Laikun, di ruang kerjanya, setelah menerima perwakilan warga dari Pulau Bunaken, antara lain, Frangky Tawaris, Ferdinan Panontongan, Gunawan Pontoh dan Zulkifli Burahama.
"Mereka menyampaikan langsung menolak merger dua sekolah tersebut, karena melihat kondisi SD Inpres yang masih baik, dan siswa di sekolah itu masih banyak sekitar 80-90 orang siswa," kata Laikun, menirukan ucapan warga yang datang itu.
Dia mengatakan, berdasarkan penjelasan mereka sebelumnya, dinas pendidikan hendak menyatukan SD Inpres dan SD Negeri Bunaken, karena SD Inpres posisinya dekat dengan pembangkit listrik di Pulau tersebut, dan sering banjir kalau hujan. Warga foto bersama usai menyampaikan penolakan merger sekolah (jo/Antara) (1)
Tetapi Laikun mengatakan, alasan itu terlalu mengada-ada, karena sejak dulu sudah seperti itu kondisinya dan kalaupun hujan hanya sebenar air sudah surut, karena itu mereka menolak.
"Lagipula saya sering berkunjung dan melihat kondisi SD Inpres masih sangat baik, baik fisik bangunan maupun lainnya seperti fasilitas dan jumlah siswa," katanya.
Lagipula yang membuat warga menolak, karena sepertinya KBM akan dipindahkan ke SD Negeri, padahal posisinya tidak jauh dari SD Inpres.
Dia mengatakan, sudah menyurati ketua DPRD minta digelar hearing dengan dinas pendidikan mengenai rencana merger sekolah tersebut.
Pewarta : Joyce Hestyawatie B
Editor : Christian Alberto Kowaas
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
DPP PDIP siapkan PAW setelah viral video Wahyudin Moridu "rampok uang negara"
22 September 2025 5:53 WIB
Anggota DPRD Gorontalo ngaku tidak sadar ucapan "rampok uang negara" direkam
20 September 2025 18:20 WIB
Terpopuler - DPRD
Lihat Juga
Reses III Wakil Ketua DPRD Manado, aspirasi dikawal sampai terealisasi
30 November 2022 7:20 WIB, 2022
Ketua DPRD Manado dukung rencana pemerintah tambah waktu siswa di sekolah
22 September 2022 22:08 WIB, 2022