Logo Header Antaranews Manado

Sumur asin, air bersih datang dari laut

Rabu, 9 September 2026 19:17 WIB
Image Print
Warga mengisi galon dengan air bersih di Pulau Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara (8/9/2026). (ANTARA/Nancy Tigauw)

Manado (ANTARA) - Pagi di Pulau Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, biasanya dimulai dengan suara ombak dan aktivitas nelayan. Namun, selama tiga bulan terakhir, ada satu hal yang lebih dulu dicari warga: air bersih.

Kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Niño membuat sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan warga perlahan mengering. Air sumur yang biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mulai menyusut dan semakin sulit diandalkan penduduk di sana.

Seperti warga di tempat lain, penduduk Bunaken membutuhkan air untuk berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mandi, memasak, dan mencuci hingga memenuhi kebutuhan keluarga para nelayan.

Setiap pagi, sebagian warga harus mencari sumber air yang masih tersedia. Ember dan jeriken menjadi barang yang tak pernah jauh dari tangan mereka. Mereka rela berjalan lebih jauh, menunggu giliran, bahkan menghemat air sedemikian rupa agar persediaan yang didapat bertahan hingga esok hari.

Di rumah, penggunaan air mulai diperhitungkan dengan cermat. Air untuk minum dan memasak menjadi prioritas. Air untuk mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah harus digunakan sehemat mungkin. Anak-anak pun mulai memahami bahwa air bersih sangat berharga dan tidak boleh terbuang sia-sia.

Namun, tiga bulan bukan waktu yang singkat. Rasa lelah dan cemas mulai muncul. Warga bertanya-tanya sampai kapan kondisi ini akan berlangsung.

Mereka berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat membantu mereka mencari solusi agar ketersediaan air bersih tidak hanya bergantung pada bantuan sementara.

Bagi masyarakat Bunaken, dampak El Niño terasa nyata pada setiap jeriken yang harus diangkut dan setiap sumur yang mengering, bahkan berubah menjadi asin.

Warga Bunaken tetap melaut, bekerja, bersekolah, memasak, dan merawat keluarga. Namun, di tengah semua aktivitas itu, mereka berharap hujan segera turun agar sumber air kembali terisi.

Ketika air sumur berubah menjadi asin

Di Pulau Bunaken, sumur selama ini menjadi salah satu sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, dari mandi dan mencuci pakaian hingga membersihkan peralatan dapur. Namun, kemarau panjang mengubah kondisi air sumur.

James Antoni, seorang warga yang tinggal di pulau itu, mengatakan sumur yang selama ini digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air kini sudah tidak lagi tawar.

"Sebenarnya kami punya sumur, tetapi karena panas berkepanjangan, airnya sekarang sudah tidak tawar lagi, sudah asin," ujar James.

Air yang dulunya bisa digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga kini tak lagi dapat diandalkan. Warga bahkan mulai kesulitan menggunakannya untuk mandi, mencuci piring, dan membersihkan peralatan dapur.

Bagi James dan warga lainnya, air sumur yang berubah asin menunjukkan panjangnya kemarau yang mereka hadapi. Sumur yang selama ini menjadi andalan perlahan kehilangan fungsinya.

"Untuk mandi sudah tidak bisa, apalagi untuk mencuci peralatan dapur," katanya.

Kondisi tersebut membuat kehidupan sehari-hari warga semakin berat. Mereka harus mencari sumber air lain yang masih bisa digunakan. Setiap jeriken air menjadi berharga, sementara kebutuhan rumah tangga tidak pernah berhenti.

Air bersih datang lewat laut

Di tengah krisis air bersih yang telah dirasakan warga Pulau Bunaken dan Pulau Manado Tua selama berbulan-bulan, bantuan datang melalui laut.

Pemerintah kemudian menyalurkan pasokan air bersih melalui jalur laut. Dua kapal milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni KM Matthew 3 dan KP Hiu, dikerahkan untuk menyuplai air bersih kepada warga di kedua pulau itu.

Kapal-kapal tersebut membawa pasokan air bagi warga yang selama berbulan-bulan menghadapi sumur yang mengering dan berubah jadi asin. Jeriken dan wadah air warga kembali terisi. Setidaknya untuk sementara waktu, mereka dapat memenuhi kebutuhan air untuk mandi, memasak, mencuci, dan kebutuhan yang lain.

Menurut Camat Bunaken Kepulauan Imanuel Mandak, kemarau yang berlangsung hampir tiga bulan berdampak nyata pada sejumlah wilayah kepulauan. Selama ini, masyarakat mengandalkan tampungan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Bantuan kemudian dikirim dari daratan menuju pulau-pulau yang terdampak melalui jalur laut.

"Masyarakat sekarang sudah merasakan dampak dari bantuan tersebut. Paling tidak bantuan ini mengurangi kesulitan dalam memperoleh air bersih," kata Mandak.

Namun, bantuan tersebut belum sepenuhnya mengakhiri persoalan. Kemarau yang masih berlangsung membuat tambahan pasokan air bersih tetap diperlukan.

"Walaupun memang masih tetap dibutuhkan tambahan bantuan, tetapi masyarakat sudah bersyukur dengan yang ada saat ini," kata Mandak.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara Jimmy Ringkuangan mengatakan distribusi air bersih tersebut merupakan hasil kolaborasi pihaknya dengan Pemerintah Kota Manado, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan KKP.

Instruksi Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus kemudian ditindaklanjuti dengan distribusi air bersih ke Pulau Bunaken dan Manado Tua.

Menurut Jimmy, kondisi geografis kepulauan tidak boleh membuat masyarakat mendapatkan pelayanan yang berbeda. Jarak antara daratan dan pulau tidak boleh menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan pemerintah.

"Jarak geografis tidak boleh menjadi jarak pelayanan. Masyarakat di pulau harus merasakan kehadiran pemerintah," kata Jimmy.





Pewarta :
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026