Logo Header Antaranews Manado

Harga minyak turun setelah data perdagangan Tiongkok lemah

Kamis, 10 April 2014 16:51 WIB
Image Print
Data pemerintah yang dirilis Kamis menunjukkan impor Tiongkok merosot 11,3 persen tahun-ke-tahun menjadi 162,4 miliar dolar AS pada Maret sedangkan ekspornya turun 6,6 persen menjadi 170,1 miliar dolar AS, menghasilkan surplus perdagangan sebesar 7,7

Singapura, 10/4 (Antara/AFP) - Harga minyak turun di perdagangan Asia pada Kamis setelah data perdagangan Tiongkok lemah, namun kerugian dibatasi oleh sentimen positif permintaan AS dan berlanjutnya keraguan tentang dimulainya kembali secara penuh ekspor Libya, kata para analis.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, turun 27 sen menjadi 103,33 dolar AS per barel di perdagangan sore dan minyak mentah Brent North Sea untuk Mei turun 40 sen menjadi 107,58 dolar AS.

Data pemerintah yang dirilis Kamis menunjukkan impor Tiongkok merosot 11,3 persen tahun-ke-tahun menjadi 162,4 miliar dolar AS pada Maret sedangkan ekspornya turun 6,6 persen menjadi 170,1 miliar dolar AS, menghasilkan surplus perdagangan sebesar 7,7 miliar dolar AS.

Angka-angka itu dapat meningkatkan kekhawatiran lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi Tiongkok, yang telah menunjukkan tanda-tanda pelemahan baru-baru ini dengan serangkaian indikator yang mengecewakan, termasuk pada produksi industri dan belanja konsumen.

"Ekspor yang lemah menyoroti kemungkinan kontraksi lebih lanjut dalam sektor manufaktur negara itu ... sehingga memangkas prospek permintaan untuk minyak mentah," kata Tan Chee Tat, analis investasi pada Phillip Futures di Singapura.

"Penurunan impor menawarkan konfirmasi lebih besar tentang penurunan kegiatan ekonomi Tiongkok, yang menunjukkan permintaan lebih rendah untuk bahan baku dan produk-produk menengah," katanya.

Sanjeev Gupta, kepala praktek minyak dan gas Asia-Pasifik di
perusahaan konsultan EY, mengatakan harga minyak mempertahankan tekanan naik dari tanda-tanda peningkatan permintaan bensin yang kuat di Amerika Serikat, ekonomi terbesar di dunia.

Laporan resmi persediaan terbaru AS menunjukkan penurunan pasokan bensin 5,2 juta barel, lebih besar dari penurunan 700.000 barel yang telah diproyeksikan.

Gupta mengatakan bahwa "penundaan dimulainya kembali pasokan dari Libya" juga mendukung harga minyak.

Investor tetap berhati-hati atas kesepakatan akhir pekan antara pemberontak di timur Libya dan pemerintah pusat untuk menyelesaikan blokade terminal-terminal minyak yang telah berlangsung selama sembilan bulan.

Pemberontak pada Rabu menyerahkan kepada tentara Libya terminal pertama dari dua terminal yang saat ini di bawah kendali mereka, yang memungkinkan ekspor dimulai kembali paling cepat pada Minggu (13/4).

Tripoli mengatakan blokade sejak Juli tersebut telah merugikan Libya lebih dari 14 miliar dolar AS dari pendapatan minyak yang hilang, memotong ekspor dari 1,5 juta barel per hari menjadi 250.000
barel per hari.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026