Logo Header Antaranews Manado

Warga Paniki demo tolak Sutet

Selasa, 18 September 2012 09:51 WIB
Image Print
Unjuk rasa warga tolak Sutet. (Foto : Melky). (1)
"Sebelumnya pembangunan tower tidak melalui dan berkoordinasi atas persetujuan warga, tapi nyatanya sudah ada pembangunan, itu yang sangat disesalkan, karena pada dasarnya kami sangat setujut, asalkan tidak di areal pemukiman warga," sesal Rotinsulu.

Minahasa Utara, (Antara Sulut) - Organisasi adat masyarakat yang menamakan diri sebagai Milisi Waraney kawal warga Paniki Atas, Kecamatan Talawaan, melakukan aksi demo damai di DPRD Minut menolak pembangunan tower untuk Sambungan Udara Tegangan Tinggi (Sutet), Senin.

Masyarakat disambut oleh sejumlah anggota dewan diantaranya Wakil Ketua DPRD Minut, Rudi Kolulu, Ketua fraksi Tumatenden, Fransiska Margaretha Tuwaidan, anggota dewa
lainnya Lucky Kiolol, Husein T.

Demo warga tersebut berlanjut diruang sidang lantai dua DPRD Minut dengan menghadirkan lima perwakilan warga Paniki Atas dan lima perwakilan dari Milisi Waraney yang masing-masing dihadiri oleh Sekjen Milisi Waraney, Berty Togas, Panglima Komando Milisi Waraney, Audy Malonda, Panglima Wilayah Satu, Yeldon Tender, Panglima adat Elvis Kowal, Komandan Provost Milisi Waraney, Maykel Walean

Pengurus besar Milisi Waraney bersama rakyat dan Ketua Milisi Waraney, Defly Walangare.

Aksi demo di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) itu menuntut agar pembangunan tower tersebut dipindahkan dari area yang merupakan padat penduduk warga Paniki Atas, karena dinilai merusak kesehatan warga.

Warga meminta kepada Anggota DPRD Minut untuk meninjau secara langsung keberadaan tower tersebut.

Mereka minta polisi membebaskan salah satu warga Paniki Atas, Deswita Rusli, yang ditahan Polres Minut atas laporan pihak PLN setelah 23 hari kasus pengrusakan sarana dan prasarana tower yang berada disekitar pemukiman warga sekitar.

Salah satu warga Sumendap Rotinsulu mengatakan sangat mendukung pembangunan tower, tapi disisi lain berharap agar tidak didirikan di sekitar pemukiman warga.

"Sebelumnya pembangunan tower tidak melalui dan berkoordinasi atas persetujuan warga, tapi nyatanya sudah ada pembangunan, itu yang sangat disesalkan, karena pada dasarnya kami sangat setujut, asalkan tidak di areal pemukiman warga," sesal Rotinsulu.

Sementara Panglima Komando Milisi Waraney, Audy Malonda mengatakan agar DPRD Minut dapat memperhatikan tuntutan warga, karena selaku organisasi masyarakat sangat prihatin atas rasa ketidakadilan yang diberikan kepada warga Paniki Atas.

"Kami akan turun dengan anggota dan masa yang lebih banyak jika tuntutan warga itu tidak segera ditindak oleh pihak-pihak berkompeten salah satunya DPRD Minut," tegas Malonda.

Organisasi Masyarakat inipun meminta agar pembicaraan antara warga dengan Anggota DPRD Minut mengambil langkah dan kesimpulan berdasar hitam diatas putih, sehingga benar-benar aspirasi warga ini ditindaklanjuti DPRD Minut.

Menanggapi hal itu, salah satu anggota DPRD Minut, Fransiska Margaretha Tuwaidan mengatakan tuntutan warga tersebut segera akan ditindaklanjuti.

Anggota DPRD yang merupakan utusan dari Dapil II, Lucky Kiolol menyatakan hingga saat ini DPRD Minut belum pernah mendapatkan laporan perihal masalah tersebut, apalagi sudah ada penahanan.

"Namun demikian selaku anggota dewan sangat berterima kasih karena sudah ada aksi dan laporan warga, sehingga kami akan segera menindaklanjutinya," ujar Kiolol yang disesuaikan anggota dewan lainnya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Minut, Rudi Kolulu berkoordinasi anggota DPRD yang hadir, Minggu atau Rabu akan memanggil hearing pihak-pihak terkait atas pembangunan tower yang ada di Desa Paniki Atas. @antarasulutcom.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026