Logo Header Antaranews Manado

RI Harus Kejar Investor Rusia

Rabu, 14 September 2011 08:13 WIB
Image Print
Presentasi Gubernur Sarundajang. (Foto : Jackson Kumaat). (1)
“Orang Rusia percaya bahwa pertemuan satu kali lebih bermakna daripada mendengar seribu kali,” katanya.

Manado, (Antara News) - Investasi Rusia di Indonesia nilainya sangat kecil dan berada pada urutan bawah. Padahal, sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia, Rusia memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan investasinya di Indonesia menjadi the big ten.

Kenyataan tersebut muncul dalam acara Marketing Investment Indonesia (MII) 2011 yang dihelat oleh BKPM bersama KBRI Moskow, 12 September di Moskow. Terlihat selama kurun waktu tahun 2000-2010, total nilai investasi dari Rusia di Indonesia hanya sebesar 0.56 juta dollar AS.

Sedangkan pada semester pertama tahun 2011, nilai investasi dari Rusia mengalami perbaikan walau masih relatif kecil yaitu sebesar 1.15 juta dollar AS. Rusia saat ini masih nangkring di urutan 28 dari urutan negara asing penanam modal di Indonesia.

Hal ini berbeda secara mencolok dengan Amerika Serikat. Meskipun terjadi krisis global, investasi negeri Paman Sam terus meroket di Indonesia. Kurun waktu 2000-2010, total investasinya mencapai 3.540 juta dolar atau pada urutan kelima. Bahkan, pada kurtal I tahun ini, investasinya sebesar 359,1 juta, atau merupakan angka investasi kedua terbesar di Indonesia dalam kuartal yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa iklim investasi di Indonesia sangat kondusif dan menjanjikan.

Tentang rendahnya investasi Rusia di Indonesia, kelemahan ada di pihak Indonesia. Menurut Kepala BKPM, Gita Irawan Wirjawan, selain pendekatan kepada investor Rusia yang kurang lincah, Indonesia juga lemah dalam menanamkan sumberdaya manusianya. Mahasiswa Indonesia di Rusia saat ini berjumlah 120 orang, kalah jauh dibanding Malaysia (3500) dan Vietnam (6000).

Dengan diadakannya acara MII ini, diharapkan realisasi investasi dari para investor Rusia yang saat ini masih relatif kecil akan lebih meningkat di masa yang akan datang. Pemerintah Indonesia tidak ingin kalah cepat dengan negara lain dalam mempromosikan potensi investasi Indonesia kepada investor Rusia.

Semua ini bukan kesalahan investor Rusia. Kamilah yang salah. Karenanya kami sekarang datang bersama para gubernur. Saya yakin, rekor investasi Rusia di Indonesia segera meroket menjadi the big ten, ujar Kepala BKPM pada bisnis forum dalam rangka MII di Moskow tersebut.

Dubes RI Hamid Awaludin juga menggarisbawahi bahwa dalam era otonomi daerah, investor asing akan lebih banyak berhadapan dengan pemerintah daerah. Untuk itu diharapkan investor Rusia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Orang Rusia percaya bahwa pertemuan satu kali lebih bermakna daripada mendengar seribu kali, katanya.

Dalam MII tersebut, Gubernur Sulut, SH Sarundajang mengajak investor Rusia untuk menanamkan modalnya di bidang infrastuktur (jalan tol Manado-Bitung), pembangkit listrik geothermal. Zona Ekonomi Khusus Bitung serta pengembangan parwisata. Selain itu ditawarkan juga proyek pengembangan jalur kereta api yang akan melibatkan tujuh propinsi.

Adapun Propinsi Sumut yang merupakan tempat investasi 10 negara asing, menawarkan proyek kluster industri minyak sawit dan aneka infrastruktur. Propinsi Kaltim mengundang investor di bidang infrastuktur (jembatan, jalan, bandara dan kereta api), sedangkan NTB menawarkan sektor infrastuktur (bandara, pelabuhan) serta sektor pariwisata.

Menurut Penangungjawab Fungsi Ekonomi KBRI Moskow, Suprianda Ruru, MII ini telah dipersiapkan selama setahun lebih. Adapun kegiatannya mencakup pertemuan antara Russia-Indonesia Business Council dan Kadin Rusia dengan peserta MII di pagi hari, Business forum dan one on one meeting di sore hari, serta gala dinner dengan hiburan dari Elfa Singers, Dewi KDI serta Kirana Dancers.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026