Logo Header Antaranews Manado

FPRB : Lestarikan Kawasan Hutan Mitra

Senin, 12 September 2011 15:01 WIB
Image Print
MENINJAU HUTAN RAKYAT. Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan meninjau Hutan rakyat yang bertema "kita lestarikan lingkungan, Bumi kita menjadi tentram dan nyaman di kawasan Hutan Rakyat, Desa Belah, Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Foto
"Ivan Sarundajang : apabila kawasan hulu bisa terjaga kelestariannya dengan sendirinya aliran air permukaan bisa diminimalisasi meskipun pada saat hujan lebat".

Manado, (Antara News) - Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sulawesi Utara Ivan Sarundajang berharap, warga melestarikan kawasan hutan di Kabupaten Minahasa Tenggara sebagai pengatur tatakelola air dari hulu hingga hilir.

"Kita bisa saksikan bersama bahwa banjir telah meluluhlantakkan Desa Makalu, Makalu Selatan, Tatengesan I dan Tatengesan yang berada di hilir. Rumah hanyut dan seratusannya rusak berat dan rusak ringan," ujar Sarundajang di Manado, Jumat.

Menurutnya, apabila kawasan hulu bisa terjaga kelestariannya dengan sendirinya aliran air permukaan bisa diminimalisasi meskipun pada saat hujan lebat.

"Mari kita jaga kelestarian hutan, kita meramahi alam sehingga alam juga akan meramahi kita. Bila tutupan hutan di kawasan hulu terganggu akan berakibat buruk untuk daerah hilir," harapnya.

Meski demikian menurutnya, pascabanjir di Kecamatan Pusomaen yang harus dilakukan adalah pengurangan risiko bencana. Ada fase tanggap darurat yang harus dilakukan sehingga tidak memerburuk keberadaan warga.

"Hal ini sudah dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara," ujarnya.

Bila tanggap darurat sudah dilakukan, menjadi tugas semua pihak terkait untuk mengevaluasi apa yang menjadi sumber bencana di empat desa yang ada di Kecamatan Pusomaen.

"Menjadi pertanyaan kita apakah meluapnya sungat Makalu ada kaitannya dengan penggundulan hutan. Atau apakah karena ada persoalan dengan daerah aliran sungai. Baru kemudian dilakukan upaya rehabilitasi di kawasan hulu atau daerah-daerah yang kritis," tambahnya.

Banjir yang terjadi Sabtu (4/9) sekitar pukul 19.00 WITA menerjang permukiman warga, merusak dan menghanyutkan puluhan rumah di empat desa Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara.

Di Desa Makalu jumlah yang hanyut sebanyak 14 rumah, rusak berat sebanyak 47 rumah dan rusak ringan sebanyak 58 rumah.

Di Desa Makalu Selatan, dua rumah hanyut, 19 rumah rusak berat dan 164 rumah rusak ringan.

Begitupun di Desa Tatangesan I sebanyak dua rumah hanyut, 11 rumah rusak berat dan 201 rumah rusak ringan.

Sedangkan di Desa Tatangesan sebanyak satu rumah hilang, 16 rumah rusak berat dan 73 rumah rusak ringan.

Total sebanyak 19 rumah hanyut, rusak berat sebanyak 93 rumah dan rusak ringan sebanyak 434 rumah. Total semua ada 546 rumah



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026