
Ekspor Sulut Ke AS Turun 88,3 Persen

"Realisasi ekspor ke Amerika Serikat per posisi Juli 2011 hanya tercatat sebesar 2,2 juta dolar AS, padahal Juni 2011 masih mencapai 18,9 juta dolar AS atau turun 88,3 persen dan ini kemungkinan pengaruh krisis di negara tersebut," kata Kepala Badan
Manado, (Antara News) - Ekspor Sulawesi Utara (Sulut) ke Amerika Serikat (AS) turun tajam 88,3 persen posisi Juli 2011 dibandingkan bulan sebelumnya diduga karena dampak krisis keuangan yang melanda di negara tersebut.
"Realisasi ekspor ke Amerika Serikat per posisi Juli 2011 hanya tercatat sebesar 2,2 juta dolar AS, padahal Juni 2011 masih mencapai 18,9 juta dolar AS atau turun 88,3 persen dan ini kemungkinan pengaruh krisis di negara tersebut," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Dantes Simbolon, di Manado, Rabu.
Dantes mengatakan, kendati mengalami penurunan realisasi pengiriman barang, tetapi AS masih tetap mendominasi sebagai penghasil devisa, yakni berada di urutan kedua.
Negara adidaya tersebut, selang periode Januari-Juli 2011 mampu menyumbang devisa sebanyak 92,2 juta dolar AS, namun masih kalah banyak dibandingkan Belanda yang mencatat realisasi ekspor 111,2 juta dolar AS.
Kendati mengalami penurunan ekspor cukup tajam, tetapi perdagangan Sulut dan AS, masih tercatat surplus untuk Sulut yakni 90,8 juta dolar AS.
"Ekspor Sulut selama hingga Juli capai 92,2 juta dolar AS sementara impor hanya 1,4 juta dolar, karena itu tercipta angka surplus.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Sulut, Hanny Wajong, mengatakan, komoditas unggulan Sulut yang merambah AS diantaranya produk turunan kelapa dan perikanan serta perkebunan.
"Produk turunan kelapa yang banyak diekspor ke AS terutama minyak kelapa kasar, sementara perikanan yakni ikan tuna, serta komoditas biji pala," kata Hanny.
Hanny mengatakan, AS merupakan salah satu negara potensial bagi Sulut, karena dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini selalu berada di tiga besar penghasil utama devisa bagi Sulut.
"Tiga negara penghasil devisa bagi Sulut yakni Belanda, China, dan Amerika Serikat, ketiga negara tersebut silih berganti menjadi penyumbang terbesar," kata Hanny.
Pewarta : Guido Merung
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
