Philadelphia (ANTARA) - Petugas pemadam berusaha mengendalikan kebakaran besar di Philadelphia Energy Solution Inc pada Jumat yang telah mengakibatkan kerusakan dan dapat membuat unit yang terpengaruh ditutup untuk waktu yang diperpanjang, kata para pejabat Kota Philadelphia dan beberapa sumber perusahaan.

Beberapa ledakan mengirim bola api ke angkasa, sehingga daerah sekitar diselimuti asap setelah pukul 04.00 EDT (15.00 WIB), setelah api berkobar di satu tong butana di kompleks yang memproduksi 335.000 barel per hari, kata pejabat pemadam Philadelphia.

Ada empat orang yang dilaporkan cedera, kata satu pernyataan perusahaan, dan semua pekerja dirawat di lokasi. Besarnya kerusakan belum diketahui, tapi tampaknya lebih serius daripada kebakaran sebelumnya kurang dari dua pekan lalu di unit yang berbeda di kompleks itu.

Seorang pekerja kawakan kilang yang berada di lokasi ketika api mulai menyala mengatakan, "Itu adalah yang paling buruk yang pernah saya alami. Kelihatannya seperti bom nuklir meledak. Saya kira kami semua akan mati."

Para pejabat kesehatan kota mengatakan tak ada bahaya buat masyarakat sekitar, dan mengatakan tak perlu ada pengungsian atau pembuatan tempat berteduh.

PES mengatakan di dalam satu pernyataan bahwa terjadi tiga ledakan di kilang tersebut, yang memengaruhi unit alkylation, kata mereka. PES mengatakan mereka percaya produk yang terbakar "kebanyakan propana".

Kompleks itu masih beroperasi dengan tingkat yang dikurangi, kata PES di dalam satu pernyataan.

Satu sumber yang mengetahui operasi instalasi tersebut mengatakan satu ledakan terjadi di unit 30.000 barel alkylation per hari yang menggunakan asam hidrofluorat, salah satu bahan kimia yang paling mematikan dalam usaha pengilangan dan sumber kontroversi.

Pada masa lalu, pekerja kilang telah menyerukan pemilik agar berhenti menggunakan asam hidrofluorat dalam pengilangan karena bahaya yang dapat ditimbulkannya pada mata, kulit dan paru-paru ketika terlepas ke atmosfir setelah ledakan.



Sumber: Reuters

Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor : Guido Merung
Copyright © ANTARA 2024