Minahasa Utara, (Antara Sulut) - Sejumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minahasa Utara (Minut) meninjau kawasan ekowisata yang berada di Desa Bahoi Kecamatan Likupang Timur.
"Hal-hal yang perlu dibenahi adalah infrastruktur khususnya jalan masuk menuju daerah ekowisata," ujar salah satu anggota DPRD Minut, Fransiska Tuwaidan, Sabtu.
Tuwaidan mengatakan, ada banyak keluhan masyarakat setempat ketika kawasan ekowisata tersebut telah dikembangkan.
"Selain infrastruktur jalan, segala hal yang berhubungan dengan pariwisata menjadi harapan warga desa Bahoi," kata Tuwaidan.
Dia menilai kawasan ekowisata Desa Bahoi menjadi baik kalau diperhatikan oleh semua kalangan.
"Dengan demikian Minahasa Utara akan menjadi daerah tujuan wisata bagi turis mancanegara maupul lokal," kata politisi yang juga pemerhati wisata di daerah tersebut.
Hal yang sama dikatakan anggota DPRD lainnya Denny Sompie dan Herman Papia. Keduanya merupakan utusan dari Dapil Satu yang turut serta bersama rombongan meninjau lokasi ekowisata Desa Bahoi.
"Sebagai warga Likupang, tentunya bangga ketika daerah ini memiliki objek wisata alam bawah laut, dengan demikian nama baik daerah, lebih khusus Desa Bahoi maupun Minahasa Utara juga Sulawesi Utara pada umumnya, akan lebih dikenal luas," katanya.
Anggota dewan yang mengikuti kunjungan diantaranya Denny wowiling, Michael Dotulong, Denny Sompie, Herman Papia, Fransisca M Tuwaidan, Yetti Karamoi, Lucky Kiolol, Vonny Wulur, Yessy Pinontoan juga beberapa staf.
Sementara, Ketua Kelompok Pengelola Kawasan Ekowita Desa Bahoi, Hans Lahamandu mengatakan, sudah sejak 2010 kawasan ekowisata tersebut dikelola.
"Ada sekitar 10 hektar dalam kawasan laut telah dikembangkan untuk menjadikan alam bawah laut terlihat indah," katanya.
Bahkan, kata Lahamandu, Desa Bahoi mendapat peringkat II Nasional mewakili Minahasa Utara dalam hal pengelola lingkungan pecinta bahari.
"Coba bayangkan saja, mendapat peringkat dua nasional, tapi hanya satu dinas di pemerintah Kabupaten Minahasa Utara yaitu kelautan dan perikanan yang aktif membantu desa kami," ujarnya.
Lahamandu berharap peran serta pemerintah di semua lini baik dari pariwisata, PU maupun lainnya memberikan sumbangsih demi kemajuan bersama.
Dia mengatakan, sudah ada sejumlah turis mancanegara datang dan melakukan aktifitas "diving" di daerah itu.
"Ketika pengembangan kawasan ekowisata ini semakin diperhatikan, otomatis akan semakin banyak turis yang datang di desa kami," katanya.
Bahkan, kata dia, di desanya telah memiliki beberapa pemandu wisata untuk membantu setiap turis yang datang. @antarasulutcom
"Hal-hal yang perlu dibenahi adalah infrastruktur khususnya jalan masuk menuju daerah ekowisata," ujar salah satu anggota DPRD Minut, Fransiska Tuwaidan, Sabtu.
Tuwaidan mengatakan, ada banyak keluhan masyarakat setempat ketika kawasan ekowisata tersebut telah dikembangkan.
"Selain infrastruktur jalan, segala hal yang berhubungan dengan pariwisata menjadi harapan warga desa Bahoi," kata Tuwaidan.
Dia menilai kawasan ekowisata Desa Bahoi menjadi baik kalau diperhatikan oleh semua kalangan.
"Dengan demikian Minahasa Utara akan menjadi daerah tujuan wisata bagi turis mancanegara maupul lokal," kata politisi yang juga pemerhati wisata di daerah tersebut.
Hal yang sama dikatakan anggota DPRD lainnya Denny Sompie dan Herman Papia. Keduanya merupakan utusan dari Dapil Satu yang turut serta bersama rombongan meninjau lokasi ekowisata Desa Bahoi.
"Sebagai warga Likupang, tentunya bangga ketika daerah ini memiliki objek wisata alam bawah laut, dengan demikian nama baik daerah, lebih khusus Desa Bahoi maupun Minahasa Utara juga Sulawesi Utara pada umumnya, akan lebih dikenal luas," katanya.
Anggota dewan yang mengikuti kunjungan diantaranya Denny wowiling, Michael Dotulong, Denny Sompie, Herman Papia, Fransisca M Tuwaidan, Yetti Karamoi, Lucky Kiolol, Vonny Wulur, Yessy Pinontoan juga beberapa staf.
Sementara, Ketua Kelompok Pengelola Kawasan Ekowita Desa Bahoi, Hans Lahamandu mengatakan, sudah sejak 2010 kawasan ekowisata tersebut dikelola.
"Ada sekitar 10 hektar dalam kawasan laut telah dikembangkan untuk menjadikan alam bawah laut terlihat indah," katanya.
Bahkan, kata Lahamandu, Desa Bahoi mendapat peringkat II Nasional mewakili Minahasa Utara dalam hal pengelola lingkungan pecinta bahari.
"Coba bayangkan saja, mendapat peringkat dua nasional, tapi hanya satu dinas di pemerintah Kabupaten Minahasa Utara yaitu kelautan dan perikanan yang aktif membantu desa kami," ujarnya.
Lahamandu berharap peran serta pemerintah di semua lini baik dari pariwisata, PU maupun lainnya memberikan sumbangsih demi kemajuan bersama.
Dia mengatakan, sudah ada sejumlah turis mancanegara datang dan melakukan aktifitas "diving" di daerah itu.
"Ketika pengembangan kawasan ekowisata ini semakin diperhatikan, otomatis akan semakin banyak turis yang datang di desa kami," katanya.
Bahkan, kata dia, di desanya telah memiliki beberapa pemandu wisata untuk membantu setiap turis yang datang. @antarasulutcom