Manado (ANTARA) - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa kekuatan keberagamaan dan keberagaman merupakan modal dalam melawan berbagai cobaan, termasuk melawan pandemi COVID-19 saat ini. 

Selain doa, lanjutnya, ikhtiar dengan menaati protokol kesehatan (Prokes) 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas, terbukti mampu menekan laju penyebaran virus COVID-19 belakangan ini.

"Selain doa, upaya atau ikhtiar menghindar dari wabah diajarkan semua agama, misalnya dengan menerapkan prokes 5M dalam aktivitas keseharian. Kebersamaan antarumat beragama dalam melawan pandemi dengan kampanye menaati prokes menjadi kekuatan dan modal besar memenangkan perang melawan pandemi Covid-19," Kata Menteri Agama saat menghadiri kampanye 5 juta masker oleh Aice Group, Kantor Staf Presiden (KSP) dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) di Kota Manado, Sulawesi Utara, Minggu. 

Menag mengatakan, di momen Paskah ini umat beragama makin menyadari bahwa pandemi Covid-19 adalah cobaan bagi umat manusia. "Pandemi ini adalah ujian bagi seluruh umat beragama untuk bersama melawan pandemi dengan segala ikhtiar menghindarkan diri dari virus bagi diri sendiri dan orang lain," ucap Gus Menteri, sapaan akrab Menteri ini.

Di kesempatan sama, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengapresiasi gerakan pentahelix yang diiniasi GP Ansor dan Aice Group. Menurutnya, pembagian masker medis untuk masyarakat sebagai upaya menghindarkan risiko penularan virus Covid-19 adalah salam kasih dalam semangat Kristus di momen Paskah ini.

“Makna Paskah yang sejati adalah bagaimana kita dapat memperjuangkan, merawat dan menjaga kehidupan kita dalam damai. Komitmen menjagai kehidupan dari ancaman virus berbahaya ini adalah makna umat atas kebangkitan dan harapan kita saat ini. Apresiasi tinggi kami di Sulawesi Utara untuk misi kemanusiaan yang dijalankan GP Ansor, Aice Group dan KSP. Semoga pandemi segera usai dan makin damai dan sejahtera di bumi,” kata Olly.

Senada dengan Menag Yaqut, Olly juga menilai sudah saatnya semua pimpinan dan umat beragama bergerak sinergis dalam mengedukasi dan mencontohkan masyarakat untuk selalu disiplin mengenakan masker dan menjalankan Prokes. 

Menurutnya, gerakan pentahelix yang bermodalkan dukungan lima pilar masyarakat dari pemerintahan, sektor swasta, lingkungan akademik, media massa, serta tokoh dan organisasi 

masyarakat akar rumput akan membuat kesadaran masyarakat untuk menekan penularan di lingkungannya lebih mudah muncul.

Seperti diketahui, kick-off kegiatan yang membagikan 150 ribu masker kepada organisasi keagamaan, gereja, petugas kebersihan, petugas pemakaman, pelajar, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, dan elemen masyarakat kelas bawah lainnya di Sulawesi Utara ini adalah bagian dari kampanye dan distribusi 5 juta masker medis di 20 kota Indonesia. Kegiatan ini telah berlangsung sejak akhir tahun lalu hingga bulan April ini. 

Manado menjadi kota terakhir yang disambangi misi kemanusiaan ini. Sebelumnya, GP Ansor, KSP dan produsen es krim Aice mendistribusikan lebih dari empat juta masker medis di Jakarta, Bogor, Cirebon, Bandung, Rembang, Semarang, Batang, Surabaya, Ambon, Palembang, Medan, Batam, Yogyakarta, Malang, Lumajang, Denpasar, Makassar, Lampung dan terakhir di Banjarmasin.

Masker Medis Shield bagi Masyarakat Bawah yang Rentan Penularan

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Sulawesi Utara Yusra Alhabsy menjelaskan bahwa kegiatan distribusi masker medis SHIELD-Aice yang dijalankan lembaganya adalah agenda kegiatan Pengurus Pusat bersama dengan berbagai elemen anak bangsa dalam koalisi pentahelix baik di tingkat nasional maupun di daerah.

Yusra menilai kerjasama banyak pihak ini adalah kunci penting pencegahan perburukan pandemi di masa krusial pandemi. Menurutnya, momen Paskah saat ini dan aktifitas puasa serta Idul Fitri yang akan datang menjadi ujian bagi umat muslim dan kristiani dalam menghindarkan diri dari perburukan pandemi.

“Gotong royong dan aksi nyata adalah kekuatan utama warga Sulut dan semua umat beragama dalam perang melawan virus berbahaya yang tidak kasat mata ini. Mulai aktifnya berbagai kegiatan pendidikan serta momen keagamaan menjadi perhatian kita bersama. Ansor bersama dengan elemen pemuda semua agama dan masyarakat akan membagikan 150 ribu masker medis Shield ini ke masyarakat bawah yang paling rentan penularan ,” jelas Yusra.

Juru Bicara sekaligus Brand Manager Aice Group Sylvana menyatakan, gerakan donasi masker dan distribusi vitamin ini akan memfokuskan diri ke kalangan masyarakat bawah yang selama ini paling sulit mendapatkan masker medis berkualitas untuk mencegah eskalasi pandemi. 

“Bersama dengan kawan-kawan Ansor, pemuda gereja, dan pemuka seluruh agama kami berusaha sekuat tenaga menjangkau lapisan masyarakat terbawah yang rentan penularan. Petugas medis, dokter, perawat, petugas sampah, penggali kubur, pedagang, institusi keagamaan, pelajar sekolah dan mahasiswa menjadi target kami untuk menerima masker medis SHIELD ini,” jelas Sylvana.

Sylvana menambahkan, sedari awal Aice meyakini masyarakat membutuhkan dukungan dan kerjasama yang riil dalam gerakan melawan pandemi. Aice sendiri membangun fondasi gerakan ini melalui kombinasi pendekatan psikologis dan kecukupan logistik. Berbagai Alat Pelindung Diri (APD) bagi dokter, perawat dan petugas di belasan rumah sakit (RS) Covid-19 di Jabodetabek telah Aice distribusikan sejak April tahun lalu.

Saat itu, Aice Group dan GP Ansor juga melakukan kampanye dukungan moril dan penguatan psikologis kalangan tenaga kesehatan. Dua lembaga ini membagikan tak kurang dari satu juta es krim Aice ke belasan rumah sakit penangan Covid-19 tersebut.

“Kampanye 5 juta masker ini adalah upaya Aice Group dalam menjaga keselamatan masyarakat Indonesia. Bukan hanya di soal kerentanan penularan dalam aktivitas masyarakat sehari-hari, gerakan ini juga ikut mendistribusikan masker medis ke berbagai momen bencana alam yang terjadi. Di momen letusan Merapi, Semeru, banjir di Kalsel, dan gempa di Sulbar, gerakan ini juga hadir memperkuat pencegahan penularan Covid-19,” jelas Sylvana yang dalam kesempatan tersebut didampingi pula oleh Head of Corporate Legal Aice Group Simon Halomoan Siagian.

Masker SHIELD produksi Aice Group ini sendiri memiliki spesifikasi 3-ply dan telah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Kesehatan. Masker dengan spesifikasi standar medis yang dibagikan ini dinilai paling optimal dalam menghindarkan masyarakat dari bahaya droplet mengandung virus covid-19 dalam berbagai aktivitas yang makin meningkat saat ini. 

Yang menarik, Aice Group menyatakan bahwa masker SHIELD tidak dijual ke publik.  Masker ini akan khusus diproduksi untuk didonasikan kepada masyarakat di masa pandemi ini. Diproduksi di pabrik baru modern milik Aice Group di Mojokerto, Jawa Timur, masker ini didistribusikan bersamaan dengan paket vitamin C untuk meningkatkan imunitas masyarakat yang disasar. 

Aice Group sendiri bukan hanya membagikan lima juta masker lewat GP Ansor, namun juga membagikan 15 juta masker lainnya melalui 200 ribu UMKM yang selama ini menjadi penjual es krim Aice di berbagai wilayah di Indonesia.

“Kami berharap dukungan Aice dengan memproduksi masker medis dalam jumlah sangat besar ini akan berhasil menekan penularan di masyarakat. Visi misi kemanusiaan ini selalu mejadi bagian dari proses bisnis Aice. Bukan hanya memberikan keceriaan lewat es krim yang berkandungan baik seperti Aice Susu Telur misalnya. Tapi juga dengan aktivitas riil ratusan ribu UMKM penjual Aice membagikan kebaikan dalam distribusi 15 juta masker medis SHIELD ini di warung-warung,” tutup Sylvana. (*)

Pewarta : Joyce Hestyawatie B

Copyright © ANTARA 2024