Tomohon, (ANTARA Sulut) - Sutrisno Trisnadi, satu dari sekian banyak perajin tahu-tempe yang tetap bertahan di masa-masa sulit. Harga kedelai impor yang melonjak hingga Rp10.000 per kilogram dipandangnya sebagai sebuah ujian atas keuletan yang telah dibangun sejak mengawali usaha 18 tahun lalu.
     Jatuh bangun pria kelahiran Banyuwangi 48 tahun lalu ini merintis usahanya. Sebagai pemula, modal keberanian menjadi garansi dalam merebut pasar dan konsumen.
     "Memang butuh proses. Tapi syukur sekarang ini sudah ada pelanggan tetap. Pelanggan inilah yang harus diservis. Bila terlambat memasok, pelanggan akan lari ke perajin lain," kata suami Sulistiani Subandi.
     Pelanggan inilah, kata ayah empat anak ini yang menjadi penyanggah roda hidup meski badai kesulitan bahan baku kedelai belum mereda. Kalaupun stok tersedia, itu dengan harga yang cukup mahal karena melonjak hingga Rp2.000 per kilogramnya.  Baginya, pada situasi sulit ini seperti ini, kemauan keras bertahan diuji.
     "Jangan sampai usaha mogok. Mau dikasih makan apa istri dan anak saya. Apalagi ini adalah satu-sataunya profesi yang digeluti sejak lama," ungkapnya.
     Mas Tris, sebutan akrabnya, punya kiat sukses sederhana bertahan di tengah lonjakan harga kedelai. Mulai dari mengecilkan produk, mengurangi ketebalan hingga, mengurangi jumlah, dengan harga jual tetap.
     "Saya bersyukur kepada media televisi, koran ataupun radio yang mengangkat kesulitan bahan baku kedelai dengan harga beli cukup tinggi. Konsumen atau pelanggan tahu situasi sulit ini sehingga sangat menerima bila dilakukan pengiritan," katanya sambil tertawa lepas.
     Ayah dari Hangger, Figur, Elmaida dan Nakhel ini mengatakan, dari usaha tahu yang telah digeluti selama ini telah memberikan dampak berantai bagi pengembangan usaha kecil di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara.
     "Coba kita hitung. Dari tahu yang saya produksi dapat menghidupkan pedagang bakso, penjual tahu isi, rumah makan, atau penjual bubur Manado. Nah coba kalau usaha ini saya hentikan. Mereka juga akan mengalami kesulitan," katanya.
     Dia berharap, pemerintah menata tata niaga, menyediakan stok penyanggah seperti yang dilakukan bulog serta membangkitkan kembali semangat petani lokal memproduksi kedelai dengan menyediakan bibit dan pupuk secara gratis.
     "Kalau produksi meningkat, tak perlu lagi mengimpor kedelai. Bila harga sudah normal, perajin tak lagi menanggung beban membeli dengan harga mahal," harapnya.***4***
    

Pewarta : Oleh Karel A Polakitan
Editor : Guntur Bilulu
Copyright © ANTARA 2024