KPAI mendorong penyidikan penganiayaan RG

id Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Sitti Hikmawatty,KPAI,kekerasan RG,RSCM

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) Sitti Hikmawatty. (kpai,go.id)

Jakarta (ANTARA) - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Sitti Hikmawatty mendorong penyidikan dugaan kekerasan pada RG (4 tahun) oleh orang dekatnya.

Hikmah saat dihubungi dari Jakarta, Jumat, mengatakan RG adalah anak disabilitas lumpuh otak "Cerebral Palsy". Kondisi RG saat ini sedang kritis di RS Ciptomangunkusumo dengan kondisi terdapat tanda mengalami tindak kekerasan.

"Dia sempat dibawa ke RSCM. Dibawa pulang selama seminggu tapi kembali ke sini dalam keadaan tulang patah. Melihat keadaannya, tidak mungkin patah tulang karena jatuh dari tempat tidur," kata Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA itu.

Menurut dia, kondisi patah tulang pada RG layaknya orang yang jatuh dari tempat yang sangat tinggi bukan dari tempat tidur. Selain itu, diketahui di kedua ketiak RG terdapat tanda luka nampak akibat digantung dengan tali.

Hikmah mengatakan tanda luka di beberapa bagian tubuh juga bukan karena kelainan darah Hematologi sebagaimana kesaksian para ahli terkait. Dengan kondisi kelumpuhan otak RG sejatinya dia tidak bisa bergerak atau hanya berkedip.

"Ada tanda kuat luka yang didapat RG memang karena penyiksaan. Ditemukan juga pendarahan di otak," kata dia.

Dia mengatakan selama ini RG diasuh oleh neneknya dari pihak ibu di Karawang, Jawa Barat. Akan tetapi, karena perjalanan waktu RG diminta kembali untuk diasuh dua orang tuanya.

Dalam kurun dua bulan lebih diasuh orang tua, kata dia, RG mengalami luka-luka parah yang mengindikasikan mendapatkan kekerasan dari orang terdekatnya.

Secara kronologi, kata Hikmah, RG awalnya dibawa ke IGD RSCM pada pertengahan Juni karena mengalami gangguan sesak nafas. Dokter juga mengobati bengkak dan peradangan yang terjadi pada lengan kanan RG karena tulangnya retak.

"Sayangnya karena pertimbangan tertentu dari keluarga, setelah menjalani perawatan selama lima hari, ananda RG dibawa pulang dengan melepas tanggung jawab medisnya pulang paksa. Seminggu kemudian, RG dibawa kembali ke RSCM dengan keadaan yang lebih parah bahkan kritis," katanya.

"Tingkat kesadaran ananda RG sudah pada standar angka tiga. Dokter mengatakan dalam waktu dekat tidak menutup kemungkinan akan segera terjadi kematian otak yang berarti secara teknis ananda RG bisa dikategorikan wafat," kata dia.

Baca juga: KPPPA ajak semua komponen tolak kekerasan terhadap perempuan-anak
Baca juga: IDAI minta orang tua bisa bedakan disiplin positif dan kekerasan

 

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar