Pengamat sebut masyarakat harus berhati-hati dengan hoaks pemilu

id Pemilu 2019,persatuan

Warga menunjukkan stiker ajakan menggunakan hak pilih pada kegiatan sosialisasi Pemilu di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (14/4/2019). Sejumlah komunitas masyarakat mensosialisasikan kegiatan Pemilu damai tanpa hoaks dan golput menjelang pelaksanaan Pemilu serentak pada hari Rabu 17 April 2019 mendatang. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

Kota Pekanbaru (ANTARA) - Pengamat Politik dari Universitas Andalas, Syaiful Wahab mengatakan masyarakat hendaknya perlu berhati-hati dan mengkritisi berbagai informasi terkait informasi hoaks terkait hasil Pemilu 2019 di media sosial belakangan ini.

"Jika kita masih terpancing dan terprovokasi oleh berita dari media sosial yang tak bertanggung jawab, berarti kita masih belum sadar dan kritis," kata Syaiful Wahab saat dihubungi dari Pekanbaru, Senin.

Menurut dia, media massa arus utama mestinya juga tidak perlu menyajikan berita-berita tentang reaksi massa atau tanggapan para elit politik, atau isu-isu yang muncul di sekitar hasil pemilu.

Jika itu masih dilakukan, katanya, dirinya yakin masyarakat masih akan terprovokasi dan polarisasi akan semakin meruncing.

"Cobalah fokus pada isu perolehan suara kandidat di daerah pemilihan, pemilu legislatif yang terabaikan, atau masalah teknis lainnya. Media massa arus utama dan medsos harus menahan diri untuk tidak mengekspose pernyataan-pernyataan elite politik yang sekedar mencari popularitas dengan membangkitkan simpati dan emosi massa," katanya.

Ia mencoba mengajak warga negara ini, untuk melihat hari-hari sesudah pemungutan suara, massa sudah beraktivitas kembali seperti sediakala. Mereka sudah mulai lupa dengan hiruk pikuk pemilu dan mereka sudah mulai memikirkan kembali kehidupan keluarganya,.

"Janganlah dipancing-pancing lagi emosinya untuk kepentingan ambisi para elit politik. Biarkan KPU, Bawaslu, DKPP, MK, kepolisian dan lembaga peradilan bekerja untuk memastikan bahwa pemilu sudah berjalan dengan jujur, adil, demokratis dan berintegritas atau belum," katanya.

Dia mengajak untuk menghormati dan mempercayai mereka, sekaligus diawasi bersama agar mereka dapat bekerja dengan baik.

"Jika tidak, lalu siapa lagi yang akan kita percayai? Apakah elit politik idola kita atau media sosial, atau siapa? tanya dia.

Jika ketidakpercayaan itu terus terjadi, tambah dia, maka bersiap-siaplah negara ini akan bubar dan mereka yang ada di belakang ini akan bertepuk tangan.

"Semoga saja ini tidak terjadi," katanya.

Baca juga: Jimly anjurkan Jokowi-Prabowo ngopi bareng
Baca juga: MUI: Mari jaga persaudaraan usai Pemilu

 

Pewarta : Frislidia
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar