Polda Jatim beri waktu tiga hari ke keluarga untuk ambil jenazah tersangka teroris

id jenazah teroris surabaya,pelaku teror surabaya ,bom surabaya,ledakan sidoarjo

Petugas memperhatikan lokasi ledakan di pintu masuk Polrestabes, Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5/2018). Ledakan yang melukai empat anggota polisi dan enam warga terjadi pada Senin (14/5) pagi di depan pos penjagaan pintu masuk Polrestabes Surabaya. (ANTARA /HO/Rendra Pradhana)

Surabaya (ANTARA News) - Kepolisian Daerah Jawa Timur menyatakan bahwa masih ada 13 jenazah tersangka pelaku teror yang sampai sekarang belum diambil keluarga, dan mengimbau kerabat mereka segera mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani prosesur pencocokan DNA dan mengambil jenazah.

"Para pelaku yang meninggal dunia sudah dihubungi keluarganya tapi sampai sekarang atau hari kelima setelah aksi teror belum diambil," kata Kepala Polda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin di Surabaya, Kamis.

"Kami beri waktu tiga hari. Kalau pihak keluarga tidak mau mengambil terpaksa akan dimakamkan di tempat pemakaman umum. Ini sudah selesai untuk proses penyelidikan," ia menambahkan.

Jenazah ke-13 tersangka pelaku teror yang sudah dimandikan namun belum dikafani itu akan langsung diserahkan jika ada keluarga yang hendak mengambilnya.

Machfud mengemukakan sejauh ini sudah ada komunikasi dari keluarga tersangka pelaku teror di Markas Polrestabes Surabaya, namun belum ada kontak dari kerabat tersangka pelaku teror di Rusunawa Sidoarjo.

Sementara jenazah korban teror, menurut dia, 12 di antaranya sudah diserahkan ke keluarga. Hanya ada satu jenazah korban ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel yang belum diserahkan karena kondisinya tidak lagi utuh.

"Kami yakinkan yang bersangkutan adalah Saudara Bayu, karena jenazahnya," kata Kapolda, yang selanjutnya akan menjenguk seorang ibu yang kehilangan dua anaknya akibat aksi teror.

Baca juga:
Kerabat tak akui 13 jenazah teroris Jatim
Polisi tindak 13 tersangka teroris di Surabaya-Sidoarjo

Pewarta : Indra Setiawan, Willy Irawan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar